Suarabersama.com – Prajurit TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III bersama Polri, BIN, Forkopimda, BNPB, relawan, dan masyarakat terus berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Papua. Penanganan dilakukan di tengah tantangan geografis berupa hutan lebat, lahan gambut, perbukitan terjal, serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.
Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan, upaya tersebut merupakan wujud pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yakni keterlibatan TNI dalam membantu masyarakat menghadapi bencana alam dan kondisi darurat kemanusiaan.
Menurut Lucky, penanganan karhutla di Papua memerlukan sinergi lintas sektor karena kondisi wilayah menyulitkan proses pemadaman. Prajurit bersama unsur terkait harus menghadapi medan berat dan keterbatasan akses menuju titik kebakaran.
“Hari ini Kogabwilhan III dibantu oleh BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca menggunakan alutsista milik TNI AU, untuk membantu menangani karhutla,” ujar Lucky kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Selain pemadaman langsung di lapangan, penanganan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kegiatan yang melibatkan BNPB Papua Selatan dan pemangku kepentingan terkait tersebut bertujuan mendukung upaya pengendalian karhutla.
Wilayah yang menjadi area semai atau blocking area OMC mencakup Kabupaten Merauke, Mappi, dan Boven Digoel. Dalam operasi tersebut, sebanyak 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam digunakan sebagai bahan semai.
Lucky menjelaskan, kondisi di lapangan menuntut ketahanan fisik dan mental personel. Di sejumlah lokasi, prajurit harus berjalan kaki selama berjam-jam sambil membawa peralatan pemadaman karena kendaraan tidak dapat menjangkau titik kebakaran. Terbatasnya sumber air juga menjadi kendala, sehingga personel harus mencari sumber air untuk mengoperasikan pompa portabel.
Tantangan lainnya adalah situasi keamanan di sejumlah wilayah sekitar lokasi karhutla yang masih terdapat aktivitas kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Personel yang bertugas harus tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan keamanan selama proses pemadaman berlangsung.
“Khusus di Papua, medan yang terjal dan adanya kelompok separatis bersenjatan membuat penanganan karhutla memiliki tantangan tersendiri,” jelas Lucky.
Dalam menghadapi kobaran api, prajurit memanfaatkan peralatan yang tersedia di sekitar lokasi, termasuk dahan pohon, serta membuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api agar tidak meluas.
Lucky menegaskan, personel terus berupaya mengendalikan kebakaran guna mencegah kerusakan kawasan hutan, terutama apabila api mendekati permukiman masyarakat.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung upaya penanggulangan karhutla dan memperkuat kerja sama dengan seluruh unsur yang bertugas di lapangan.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk bersinergi dan membantu mengatasi masalah karhutla di wilayah Papua,” pungkasnya.
Penanganan karhutla di Papua tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri hingga pemerintah daerah, BNPB, relawan, dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan membantu mempercepat pengendalian kebakaran di tengah beratnya medan dan tantangan keamanan di wilayah terdampak. ANNA





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.