Jama’ah Muslimin Protes Lelucon Trump soal Nama Muhammad, Minta Maaf Terbuka

Bagikan
Jama’ah Muslimin Protes Lelucon Trump soal Nama Muhammad, Minta Maaf Terbuka

JAKARTA , suarabersama.com— Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadikan nama “Muhammad” sebagai bahan lelucon dalam sebuah kampanye politik.

Protes tersebut disampaikan Jama’ah Muslimin melalui pernyataan tertulis yang diterbitkan di Jakarta, Senin (19/10/2026), bertepatan dengan 8 Jumadil Awwal 1448 Hijriah.

Pernyataan itu merespons ucapan Trump ketika berkampanye untuk kandidat Partai Republik di Dalton, Georgia, pada Jumat (16/10). Kampanye tersebut berlangsung menjelang pemilu sela Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 3 November.

Dalam pidatonya, Trump menyebut nama “Mohammad” ketika membicarakan cara mengenali seseorang yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Ia bahkan mengklaim telah menggunakan cara tersebut selama bertahun-tahun tanpa pernah salah.

Jama’ah Muslimin menilai pernyataan itu telah melewati batas kewajaran karena nama Muhammad memiliki kedudukan penting bagi umat Islam. Nama tersebut merujuk kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi sosok yang dimuliakan oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Menurut organisasi tersebut, pernyataan seorang kepala negara yang disampaikan di hadapan publik semestinya mempertimbangkan sensitivitas keberagaman dan penghormatan terhadap keyakinan masyarakat.

Mereka khawatir candaan yang berkaitan dengan simbol agama justru memperkuat prasangka terhadap Muslim dan berpotensi mendorong berkembangnya Islamofobia.

Atas pernyataan tersebut, Jama’ah Muslimin meminta Trump beserta tim kampanyenya memberikan permintaan maaf secara terbuka kepada umat Islam. Mereka juga mendesak agar pernyataan serupa tidak kembali disampaikan.

Jama’ah Muslimin turut menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengambil sikap terhadap berbagai bentuk ujaran kebencian yang membawa-bawa agama.

Mereka merujuk pada resolusi PBB yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia. Jama’ah Muslimin juga mengimbau umat Islam tidak merespons pernyataan tersebut secara emosional, melainkan tetap tenang dan mengedepankan cara-cara yang sesuai dengan nilai keagamaan.

Sementara itu, laporan Council on American-Islamic Relations (CAIR) pada awal 2026 menyebut adanya peningkatan persoalan Islamofobia di Amerika Serikat. Laporan tersebut mengaitkannya antara lain dengan kebijakan imigrasi yang lebih ketat dan penanganan terhadap aksi protes yang berkaitan dengan dukungan terhadap Palestina.

Hingga laporan ini disusun, belum terdapat tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun tim kampanye Trump terkait protes yang disampaikan Jama’ah Muslimin. (kls)

Lebih banyak dari IDEOLOGI

Tanggapan

0

Tulis tanggapan

Email tidak ditampilkan. Redaksi meninjau setiap tanggapan sebelum terbit.

Berapa 2 + 2?

Hitung jawaban ini agar tanggapan tidak dianggap spam.

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.