Jakarta, suarabersama.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 3.799,73 hektare di enam provinsi prioritas di Sumatera dan Kalimantan.
Pemadaman dilakukan selama periode 24 hingga 30 September 2026 sebagai bagian dari upaya menekan meluasnya kebakaran, terutama di wilayah lahan gambut.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan petugas terus berupaya memperkecil luas lahan yang terbakar dengan mempercepat penanganan titik api.
“Di grafik ini kita berusaha untuk memperkecil jumlah lahan yang terbakar dengan memadamkannya,” kata Berton dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis.
Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan luas area yang berhasil dipadamkan paling besar, yakni 1.554,46 hektare.
Kalimantan Tengah berada di urutan berikutnya dengan luas pemadaman 846 hektare, disusul Jambi 477,50 hektare.
Sementara itu, tim gabungan memadamkan karhutla seluas 413,30 hektare di Kalimantan Barat. Di Kalimantan Selatan luas pemadaman mencapai 349,44 hektare, sedangkan Riau 96,03 hektare.
Berton mengatakan kondisi karhutla berubah cepat sehingga angka luas lahan terbakar maupun area yang berhasil dipadamkan dapat mengalami perubahan setiap hari.
Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena luas lahan terbakar meningkat dalam dua hari terakhir masa pemantauan. Meski demikian, pemadaman terus dilakukan untuk menekan area yang masih terbakar.
Di Riau, hujan yang turun secara alami turut membantu mengurangi luasan kebakaran. Kondisi tersebut membuat area yang masih terbakar di wilayah tersebut relatif lebih kecil.
Perubahan juga terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Berdasarkan perbandingan data 29 dan 30 September, area yang belum berhasil dipadamkan mengalami peningkatan di kedua provinsi tersebut. Di Kalimantan Tengah, kenaikannya mencapai lebih dari 14 hektare.
BNPB dan tim gabungan kini memusatkan penanganan pada titik api yang masih aktif, termasuk kebakaran di lahan gambut yang dapat merambat melalui lapisan bawah permukaan.
Penanganan juga diarahkan ke kawasan yang memiliki risiko penyebaran api tinggi, termasuk lokasi yang sulit dijangkau serta daerah dengan keterbatasan sumber air. (kls)
“Secara umum, situasi karhutla di enam provinsi prioritas terus dilaksanakan penanganan dan setiap hari banyak area yang berhasil dipadamkan,” ujar Berton.
BNPB berharap hujan dapat segera turun di wilayah rawan sehingga membantu mengurangi jumlah titik api dan mempercepat proses pengendalian karhutla.
Berton juga mengimbau masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan di daerah rawan kebakaran untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran di kawasan gambut. (kls)





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.