Suarabersama —
Penanaman nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda perlu dilakukan melalui keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan mengenai keberagaman tidak cukup hanya melalui hafalan semboyan negara, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kepedulian sosial, dan kebiasaan hidup rukun di tengah perbedaan.
Pesan tersebut disampaikan peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Diasma Sandi Swandaru, dalam kegiatan penguatan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Ruang Wacana Loka, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (13/10/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta tersebut, Diasma membawakan materi bertajuk Bhinneka Tunggal Ika: Pengikat Kedamaian dalam Keberagaman Bangsa Indonesia. Ia menekankan bahwa anak-anak lebih mudah memahami arti toleransi melalui perilaku yang mereka lihat dan alami secara langsung.
Menurut Diasma, keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membentuk karakter anak. Sikap orang tua yang menghormati tetangga, membantu sesama, dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang merupakan contoh konkret pendidikan kebinekaan.
Nilai tersebut kemudian perlu diperkuat melalui lingkungan masyarakat dan sekolah. Kegiatan gotong royong, kerja bakti, musyawarah, serta interaksi antarsiswa dapat menjadi sarana untuk membiasakan generasi muda bekerja sama dan menyelesaikan perbedaan secara damai.
“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai ucapan, slogan, atau simbol seremonial. Toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menghormati keyakinan orang lain, tidak melakukan diskriminasi, bersedia bekerja sama, membantu sesama, dan memberikan kesempatan yang setara kepada setiap orang,” ujarnya.
Diasma juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter generasi muda. Penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, dan konten provokatif melalui media digital dapat memicu kesalahpahaman serta mengganggu kerukunan masyarakat.
Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Penggunaan media sosial secara bijak menjadi bagian penting dari upaya mengamalkan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman.
Ia menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika, yang bersumber dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, tetap relevan sebagai landasan persatuan Indonesia. Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kenyataan yang perlu disikapi dengan saling menghargai dan bekerja sama.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, mengajak masyarakat untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga kerukunan, serta menghindari berita bohong dan sikap intoleran yang dapat merusak persaudaraan.
Melalui kegiatan ini, penguatan karakter kebangsaan diharapkan tidak hanya menjadi materi sosialisasi, tetapi juga diterapkan secara konsisten dalam kehidupan keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial.
Dengan keteladanan yang dimulai sejak dini, semangat Bhinneka Tunggal Ika diharapkan tumbuh menjadi bagian dari karakter generasi penerus bangsa, sehingga kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan harmonis dapat terus terpelihara.(*)





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.