Jakarta, Suarabersama.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan bahwa dari 1.074 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada, saat ini hanya 354 perusahaan yang beroperasi. Hal ini disebabkan oleh pemangkasan jumlah BUMN untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa sekitar 52 persen dari BUMN yang tersisa mengalami kerugian, sementara 97 persen setoran dividen negara hanya berasal dari 15 perusahaan.
Rosan menjelaskan bahwa pemangkasan ini dilakukan dengan menutup perusahaan yang tidak beroperasi (dormant) dan melakukan penggabungan (merger) pada lini bisnis sejenis. Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas aset BUMN dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negara. Selain itu, Danantara juga berencana untuk memperbesar kerja sama dengan sektor swasta dalam pengelolaan aset BUMN yang tidak strategis.
Kondisi Keuangan BUMN dan Upaya Optimalisasi
Kondisi keuangan BUMN yang tidak seimbang ini menjadi perhatian serius bagi Danantara. Meskipun aset yang dimiliki BUMN cukup besar, imbal hasil yang dihasilkan dari pengelolaan aset tersebut masih rendah. Hal ini menunjukkan adanya potensi untuk meningkatkan produktivitas. Rosan menegaskan bahwa arahan dari Presiden Prabowo Subianto adalah agar pengelolaan aset dilakukan dengan perencanaan yang terukur dan terstruktur.
Dalam upaya meningkatkan kinerja, Danantara sedang melakukan analisis terhadap portofolio aset BUMN yang mencakup berbagai sektor, seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, dan sektor minyak dan gas. Rosan menambahkan bahwa keterlibatan swasta dalam pengelolaan aset BUMN dapat membuka peluang untuk efisiensi yang lebih baik, meskipun saat ini belum ada keputusan mengenai aset atau lini usaha yang akan dikerjasamakan.
Strategi Merger dan Efisiensi
Sebagai bagian dari strategi pengurangan jumlah BUMN, Danantara telah melakukan merger pada beberapa lini bisnis. Contohnya, enam perusahaan pengelola aset milik perbankan BUMN telah digabungkan menjadi satu entitas. Selain itu, penggabungan juga dilakukan pada entitas anak yang bergerak di sektor hospitality dan kesehatan, di mana aset hotel dan rumah sakit dari berbagai BUMN kini dilebur menjadi satu.
Rosan menjelaskan bahwa langkah-langkah ini diambil untuk menciptakan efisiensi yang lebih baik. Dengan mengurangi jumlah entitas yang beroperasi, diharapkan BUMN yang tersisa dapat berfungsi dengan lebih optimal dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan negara. Melalui langkah-langkah ini, Danantara berharap dapat meningkatkan kinerja BUMN dan memaksimalkan potensi aset yang ada. Ann
Sumber: Warta Ekonomi, detikfinance





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.