Suarabersama – Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen pada Triwulan III 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah yang turut menjaga aktivitas ekonomi nasional di tengah dinamika perekonomian global.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi secara tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan Triwulan III 2025 yang mencapai 5,04 persen. Sementara secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 1,59 persen dibandingkan Triwulan II 2026.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menyampaikan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 2,62 poin persentase.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen, didukung peningkatan aktivitas perdagangan digital, mobilitas masyarakat, pariwisata, serta berbagai aktivitas konsumsi lainnya. Kondisi ini memperlihatkan peran permintaan domestik yang masih penting dalam menjaga perputaran ekonomi.
Selain konsumsi masyarakat, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen dengan kontribusi sebesar 1,91 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan investasi mencerminkan aktivitas pembentukan aset produktif yang mendukung kapasitas perekonomian.
Konsumsi pemerintah juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,95 persen. Peningkatan tersebut didukung realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa pemerintah, termasuk pengeluaran dalam pelaksanaan sejumlah program pemerintah.
Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor ekonomi mencatatkan pertumbuhan positif. Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,20 poin persentase, disusul perdagangan sebesar 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, serta informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,22 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya tingkat hunian hotel serta aktivitas konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran.
Secara regional, Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 6,08 persen. Wilayah Jawa tumbuh 5,84 persen, sedangkan Sulawesi mencapai 5,68 persen. Ketiga kawasan tersebut mencatat pertumbuhan di atas angka nasional.
BPS juga mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan mencapai Rp3.633,2 triliun pada Triwulan III 2026.
Capaian tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat, investasi, belanja pemerintah, dan aktivitas berbagai sektor usaha masih menjadi fondasi penting perekonomian nasional. Ke depan, penguatan daya beli, peningkatan produktivitas, dan keberlanjutan investasi diperlukan agar momentum pertumbuhan dapat terus terjaga serta memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.