Penangkapan di Maybrat, TNI Dorong Penyelesaian Konflik Papua melalui Kembali ke NKRI

Bagikan
Penangkapan di Maybrat, TNI Dorong Penyelesaian Konflik Papua melalui Kembali ke NKRI
Foto: Istimewa

Suarabersama.com – Satgas Yonif 9 Marinir Koops Habema menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Dua orang yang diamankan disebut sebagai pimpinan kelompok, yakni Komandan Batalyon OPM Matius Aisasior dan wakilnya, Yeremias Aisasior. Sementara itu, satu orang lainnya bernama Zakarias Aikingking diduga merupakan anggota kelompok tersebut.

Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menjelaskan, penangkapan itu merupakan hasil pemantauan aparat terhadap aktivitas kelompok OPM di wilayah Papua Barat Daya.

Operasi bermula ketika personel Satgas Yonif 9 Marinir mendeteksi keberadaan Matius setelah ia keluar dari kawasan Hutan Aisnak, Distrik Moskona, Kabupaten Teluk Bintuni. Wilayah tersebut diduga menjadi lokasi persembunyian kelompok itu.

”Pasukan TNI kemudian mengikuti salah satu pimpinan OPM di Papua Barat Daya itu hingga sampai ke sebuah rumah di Kampung Franeway, Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat,” katanya, Jumat (30/10/26).

Setelah tiba di rumah tersebut, personel TNI mendapati Yeremias Aisasior dan Zakarias Aikingking sedang menunggu Matius. Aparat kemudian melakukan penyergapan dan mengamankan ketiganya tanpa perlawanan.

Lucky menyebut kelompok yang dipimpin Matius memiliki afiliasi dengan jaringan OPM di bawah pimpinan Kopitua Heluka. Nama Kopitua Heluka dikaitkan dengan sejumlah aksi kekerasan di Papua, termasuk penyerangan terhadap pos keamanan dan pekerja proyek Jalan Trans Bintuni.

Kelompok tersebut juga disebut terlibat dalam tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap Orang Asli Papua (OAP). Penangkapan tiga orang itu menjadi bagian dari upaya aparat memantau dan menangani aktivitas kelompok bersenjata di wilayah Papua Barat Daya.

Dalam keterangannya, Lucky mengajak pimpinan, anggota, dan simpatisan OPM untuk menghentikan perlawanan bersenjata serta kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menyatakan pemerintah dan aparat akan menyambut pihak-pihak yang bersedia meletakkan senjata. Meski demikian, TNI menegaskan akan tetap mengambil tindakan apabila menghadapi situasi yang mengancam keselamatan masyarakat.

”Satgas TNI tidak akan ragu sedikit pun untuk mengambil tindakan tegas ketika berhadapan dengan situasi tertentu, khususnya kondisi mendesak, mengingat prinsip Salus Populi Suprema Lex Esto, yakni keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, senantiasa menjadi pedoman TNI,” ujar dia. ANNA

Lebih banyak dari HANKAM

Tanggapan

0

Tulis tanggapan

Email tidak ditampilkan. Redaksi meninjau setiap tanggapan sebelum terbit.

Berapa 5 + 4?

Hitung jawaban ini agar tanggapan tidak dianggap spam.

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.