Suarabersama.com – Indonesia mencatat momentum baru di tingkat internasional melalui penyelenggaraan International Grand Imam Conference (IGIC) di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Forum internasional tersebut menjadi pertemuan yang menghimpun para imam besar dari berbagai kawasan dunia. Konferensi ini membahas peran strategis tempat ibadah dalam merespons berbagai tantangan global yang dihadapi masyarakat saat ini.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut penyelenggaraan IGIC sebagai sebuah inisiatif yang pertama kali digagas oleh Indonesia. Sebanyak 45 delegasi dari 39 negara hadir dalam forum tersebut, dengan keterwakilan dari sejumlah kawasan, mulai Timur Tengah, Eropa, Amerika, Amerika Latin hingga Asia.
Melalui konferensi ini, Indonesia mendorong pengembangan fungsi masjid agar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mencari solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan, lingkungan, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Inilah pertemuan pertama di dunia yang dilakukan, digagas oleh Indonesia. Tidak pernah dan belum pernah ada perkumpulan atau pertemuan imam-imam besar se-dunia seperti ini dan kita yang memulai,” katanya.
Menurut Nasaruddin, para imam memiliki posisi penting dalam menjadikan masjid sebagai ruang yang aman untuk berdialog dan membahas berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat.
“Bagaimana menjadikan masjid ini sebagai rumah aman untuk mendiskusikan, membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan. Memang mereka sangat tertarik, mereka sangat bangga bahwa ada Indonesia yang selalu berani berpikir lain untuk kemaslahatan umat Islam dan kemanusiaan,” lanjut Nasaruddin.
Selain membahas berbagai isu global, konferensi tersebut juga dijadwalkan menentukan sosok yang akan memimpin forum internasional tersebut. Pertemuan terakhir nantinya juga akan membahas keberlanjutan organisasi secara berkala.
“Dan insya Allah pada pertemuan terakhir nanti kita akan menetapkan siapa nanti akan menjadi president of International Grand Imam Association,” ujarnya.
Merespons Tantangan Global
Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mengatakan forum tersebut diarahkan untuk menghasilkan gagasan keagamaan yang inklusif sebagai respons terhadap dinamika global.
“Tujuannya adalah untuk merumuskan satu narasi keagamaan yang bertujuan untuk merespons situasi global kita yang saat ini dipenuhi dengan konflik, perang, juga penuh dengan bencana alam,” katanya.
Ia juga menilai para imam memiliki peran penting dalam merumuskan panduan moral yang dapat menjangkau masyarakat secara luas di berbagai negara.
“Kita ingin para imam ini menyusun satu narasi bersama yang tidak hanya ditujukan untuk umat Islam, tetapi ditujukan untuk umat manusia seluruhnya,” tegasnya.
Anis Matta berharap pertemuan internasional yang digelar di Jakarta tersebut dapat menjadi awal terbentuknya sebuah wadah permanen yang mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan global, termasuk upaya mendorong perdamaian dunia.
“Mudah-mudahan dari sini lahir nanti ada satu organisasi yang menggabungkan seluruh imam di seluruh dunia. Kita akan melihat bagaimana seluruh imam ini berperan menjadi solusi bagi berbagai persoalan kita di dunia saat ini,” ujarnya.(hni)

