Jakarta,Suarabersama.com – Upaya pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor, khususnya di lingkungan pendidikan. Pada Senin, 25 Mei 2026, Tim Satgaswil Jatim Densus 88 AT Polri menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Bahaya Radikalisme dan Terorisme kepada 63 perwakilan guru SMP Negeri se-Kota Surabaya yang tergabung dalam Satgas Aman dan Nyaman SMP Negeri se-Kota Surabaya.
Kegiatan yang diselenggarakan berdasarkan Surat Undangan Narasumber DP3APPKB Kota Surabaya Nomor: 400.9.12.1/7075/436.7.8/2026 tersebut berlangsung di Ruang A Convention Hall Siola Lantai 4, Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, Kompol Dani Teguh Wibowo mewakili Satgaswil Jatim Densus 88 AT Polri bersama Arif Fatoni selaku mantan narapidana terorisme memberikan pemahaman mendalam mengenai perkembangan radikalisme kontemporer serta strategi pencegahannya di lingkungan sekolah.
Materi yang disampaikan menyoroti perubahan pola penyebaran paham ekstrem yang kini banyak memanfaatkan media sosial dan platform digital. Perkembangan teknologi membuat proses radikalisasi tidak lagi bergantung pada pertemuan fisik, melainkan dapat terjadi secara cepat melalui gawai dan ruang digital yang minim pengawasan.
Selain itu, dijelaskan bahwa keterpaparan siswa terhadap paham radikal umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti lemahnya perhatian keluarga, tekanan sosial, perasaan terasing, pencarian identitas diri, hingga paparan doktrin ekstrem secara berulang melalui media digital.
“Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga penjaga ruang aman bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh ideologi kekerasan dan radikalisme,” disampaikan dalam sesi sosialisasi.
Tim Satgaswil Jatim Densus 88 AT Polri juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, tokoh agama, dan komunitas masyarakat dalam membangun sistem perlindungan sosial yang kuat bagi para pelajar. Penguatan literasi digital bagi guru, siswa, dan wali murid dinilai menjadi langkah penting agar mampu mengenali hoaks, propaganda radikal, serta penggunaan media sosial secara bijak dan kritis.
Di sisi lain, sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang inklusif, terbuka, menghargai perbedaan, serta bebas dari praktik perundungan (bullying). Lingkungan sosial yang sehat diyakini dapat memperkuat ketahanan psikologis siswa dan meminimalkan risiko keterpaparan paham ekstrem.
Kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan dalam menghadapi ancaman radikalisme di era digital.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dapat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini, mencegah, serta membangun karakter pelajar yang toleran, kritis, dan cinta tanah air demi menjaga keutuhan bangsa dan generasi masa depan Indonesia.



