Suarabersama – Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 4,7 persen. Kinerja ekonomi yang kuat pada semester pertama tahun ini turut didukung oleh penguatan konsumsi dan belanja pemerintah, termasuk percepatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026, Bank Dunia menyebut dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan lebih ringan dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan revisi positif terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.
Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen pada semester I 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan sebesar 5,1 persen pada 2025. Kinerja tersebut menjadi salah satu dasar optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia hingga akhir tahun.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Lieselotte Ohnsorge, mengatakan permintaan domestik masih menjadi salah satu kekuatan utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut Bank Dunia, penguatan konsumsi swasta dan peningkatan belanja pemerintah menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi pada awal 2026. Percepatan pelaksanaan MBG juga disebut ikut mendorong aktivitas ekonomi melalui belanja pemerintah.
Selain MBG, momentum Ramadan dan Idul Fitri yang berlangsung lebih awal serta pencairan tunjangan hari raya bagi aparatur sipil negara turut memengaruhi peningkatan konsumsi dan belanja pada awal tahun.
Proyeksi pertumbuhan Indonesia sebesar 5,2 persen tersebut juga berada di atas rata-rata pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan mencapai 4,5 persen.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia tetap berada di angka 5,2 persen pada 2027. Namun, lembaga tersebut tetap memberikan sejumlah catatan, antara lain terkait pelebaran defisit transaksi berjalan serta kebutuhan meningkatkan peran investasi swasta ketika stimulus fiskal mulai berkurang.
Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian global. Penguatan permintaan domestik dan pelaksanaan berbagai program pemerintah menjadi bagian dari faktor yang menopang aktivitas ekonomi nasional.





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.