Jakarta, suarabersama.com – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, angkat bicara terkait sorotan publik atas anggaran teknologi informasi yang mencapai Rp1,2 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) serta layanan perangkat berbasis IoT.
Dadan menegaskan, seluruh proses pengadaan dan penunjukan mitra strategis dilakukan sesuai regulasi dan berada dalam pengawasan ketat. Hal ini, kata dia, untuk memastikan keamanan data nasional tetap terjaga.
Fokus pada Aplikasi dan Infrastruktur IoT
Dari total anggaran, sekitar Rp550 miliar digunakan untuk pengembangan aplikasi SIPGN yang mencakup berbagai modul pemantauan gizi. Sementara itu, sekitar Rp199 miliar dialokasikan untuk layanan managed service perangkat Internet of Things (IoT) guna mendukung sistem tersebut.
Menurut Dadan, keterlibatan Perum Peruri merupakan bagian dari strategi terintegrasi pemerintah. Ia menyebut Peruri kini telah bertransformasi menjadi perusahaan teknologi dengan fokus pada keamanan digital, sesuai mandat regulasi.
Jamin Tata Kelola dan Keamanan Data
Dadan juga menepis keraguan publik terkait transparansi proyek. Ia memastikan kerja sama dijalankan dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) serta sesuai ketentuan hukum.
Selain itu, ia menegaskan bahwa seluruh tahapan dalam sistem pengadaan elektronik tetap berjalan dalam koridor yang sah. BGN, lanjutnya, berkomitmen agar sistem SIPGN dan dukungan IoT dapat segera beroperasi optimal.
“Program ini penting untuk memastikan distribusi gizi tepat sasaran dan bisa dipantau secara real-time,” ujarnya. Pemerintah berharap implementasi sistem digital tersebut dapat memperkuat pengawasan dan efektivitas program pemenuhan gizi nasional. (kls)



