Suara Bersama

Setahun Mengenang Affan Kurniawan, Keluarga Imbau Masyarakat Jaga Suasana Damai

Suarabersama.com – Setahun setelah Affan Kurniawan meninggal dunia dalam kericuhan demonstrasi, keluarganya memilih untuk tidak menggelar acara peringatan secara besar-besaran. Di rumah yang diberikan pemerintah kepada orang tua Affan, suasana justru berlangsung sederhana. Keluarga hanya berharap masyarakat mengenang Affan melalui doa.

Rumah keluarga Affan di Kompleks Pesona Kahuripan 10, Cileungsi, Kabupaten Bogor, tidak menunjukkan persiapan khusus menjelang satu tahun kepergian Affan. Tidak ada panggung maupun kerumunan yang disiapkan untuk memperingati momentum tersebut.

Keputusan itu diambil setelah keluarga mengetahui adanya rencana sejumlah pihak untuk menggelar kegiatan memperingati satu tahun kematian Affan. Ayah Affan, Zulkifli, bersama istrinya, Erlina, kemudian menyampaikan imbauan agar masyarakat dan rekan-rekan seprofesi Affan tidak menggelar peringatan secara berlebihan.

“Kami selaku keluarga mengimbau dan berharap kepada seluruh rekan seprofesi almarhum dan kepada masyarakat luas untuk tidak perlu adanya peringatan yang berlebihan tersebut,” kata Zulkifli dalam video yang disampaikan pada 13 Agustus 2026.

Menurut keluarga, mengenang Affan tidak harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Mereka lebih mengharapkan doa agar Affan mendapatkan tempat terbaik, diampuni kesalahannya, serta diterima seluruh amal ibadahnya.

Keluarga kemudian memilih mengadakan pengajian dan doa bersama secara sederhana di masjid yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Keluarga juga meminta agar foto, konten mengenai Affan, maupun kegiatan yang membawa nama Affan tidak digunakan tanpa persetujuan.

Kepergian Affan sendiri terjadi ketika namanya menjadi perhatian publik nasional. Pada 28 Agustus 2025, Affan yang saat itu berusia 21 tahun sedang menjalankan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek daring.

Malam itu, Affan tengah mengantarkan pesanan dan melintas di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, ketika situasi demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI berubah menjadi kericuhan.

Dalam proses pembubaran massa, kendaraan taktis Brimob melintas di kawasan tersebut. Affan kemudian tertabrak dan terlindas kendaraan tersebut. Ia sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Peristiwa tersebut kemudian memicu perhatian luas dari masyarakat. Kabar mengenai meninggalnya Affan menyebar dengan cepat dan mendapat respons dari komunitas pengemudi ojek daring maupun berbagai elemen masyarakat.

Sejumlah aksi solidaritas dan tuntutan keadilan kemudian berlangsung di sejumlah daerah. Di Jakarta, pengemudi ojek daring juga mendatangi Markas Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Kwitang, yang kemudian kembali diwarnai kericuhan.

Nama Affan selanjutnya melekat dengan tuntutan keadilan dari masyarakat setelah kematiannya dalam situasi kerusuhan.

Jenazah Affan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, sehari setelah peristiwa tersebut. Pada momentum yang sama, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa dan menyebut tindakan aparat dalam peristiwa tersebut berlebihan. Pemerintah juga menyatakan akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan transparan.

Prabowo kemudian mendatangi kediaman orang tua Affan bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk menyampaikan belasungkawa. Pemerintah selanjutnya memberikan rumah kepada keluarga Affan di Cileungsi.

Kini, setahun setelah peristiwa tersebut, keluarga memilih mengenang Affan dengan cara yang lebih sederhana melalui doa dan pengajian, sekaligus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan peringatan secara berlebihan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =