Suarabersama.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah memperkuat respons kesehatan menyusul dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Kementerian Kesehatan mulai mengaktifkan Health Emergency Operating Centre (HEOC) serta menyiapkan berbagai kebutuhan medis untuk menangani gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu, Budi menjelaskan erupsi Anak Krakatau dapat berdampak terhadap kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi sekaligus panduan bagi tenaga kesehatan di wilayah terdampak.
“Kita juga segera mengeluarkan surat edaran untuk memberikan guidance yang rinci terhadap para petugas tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota yang terdampak,” ujar Budi.
Budi mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi abu vulkanik masih berpotensi mengganggu kesehatan. Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker dan kacamata sebagai perlindungan tambahan.
Untuk masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik, Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan sejumlah fasilitas dan obat pendukung.
“Kalau kulit, begitu pulang langsung dibersihkan. Kalau ternyata sudah sakit, ya segera ke puskesmas. Kita sudah siapkan kalau pernafasan ada nebulizer dan oxygen concentrator. Kalau misalnya mata kita siapkan tetes mata. Kalau kulit, juga kita siapkan salep kulit,” katanya.
Budi turut mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata apabila terkena partikel erupsi. Mata dapat dibersihkan menggunakan air atau obat tetes mata, sementara masyarakat yang mengalami keluhan lebih serius dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan di puskesmas.
“Once again, jangan panik, stay at home and stay healthy,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terus melakukan langkah penanganan dampak erupsi. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi konsentrasi abu vulkanik.
“Ada dua teknik untuk OMC. Yang pertama adalah untuk mendatangkan hujan tentu saja. Kalau hujannya nanti turun dengan cukup deras begitu, tentu saja abu vulkanik yang sekarang, mulai kemarin sampai hari ini mengganggu kehidupan kita, ini bisa segera luruh,” katanya.
Untuk wilayah Jakarta, Banten, dan Lampung, BNPB bersama BMKG juga menyiapkan metode water mist apabila tidak terdapat pertumbuhan awan hujan. Metode tersebut ditujukan untuk membantu mengurai partikel abu vulkanik yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Selain penanganan dampak kesehatan dan lingkungan, BNPB telah mulai mendistribusikan kebutuhan dasar dan masker kepada masyarakat terdampak. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan serta kementerian dan lembaga terkait.
“BNPB juga sudah mulai mendistribusikan kebutuhan-kebutuhan logistik masyarakat, seperti kebutuhan logistik dasar, juga masker. Tentu saja kami berkoordinasi juga dengan Kementerian Kesehatan dan kementerian lembaga terkait,” kata Suharyanto.
Sementara itu, BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan mencakup dampak erupsi terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. (*)

