Suara Bersama

Pakar UMY Soroti Risiko Diplomasi Ganda Pemerintah di Tengah Geopolitik Global

Yogyakarta, suarabersama.com – Pakar hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ali Maksum, menilai praktik politik luar negeri bebas aktif Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan di lapangan. Ia menyebut, pendekatan yang dijalankan pemerintah cenderung menunjukkan arah “diplomasi dua kaki”.

Pandangan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, sementara di waktu yang berdekatan Indonesia juga menjalin kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat.

Menurut Ali, dalam praktiknya hampir tidak ada negara yang benar-benar netral. Ia mencontohkan, pada era Soekarno Indonesia cenderung dekat dengan Uni Soviet, sedangkan pada masa Soeharto kebijakan lebih condong ke Amerika Serikat. Karena itu, narasi bebas aktif dinilai lebih sebagai kerangka normatif yang menjaga persepsi publik.

Ia juga menilai, di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat semakin kritis dalam menilai konsistensi kebijakan luar negeri pemerintah.

Risiko Kepercayaan Internasional

Ali mengingatkan bahwa strategi diplomasi yang mencoba menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan besar memiliki risiko, terutama terkait tingkat kepercayaan dari negara-negara tertentu. Dalam konteks global yang kian kompleks, konsistensi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas.

Keterlibatan Indonesia dalam forum seperti BRICS disebut dapat memperkuat posisi diplomatik, namun juga memunculkan persepsi ganda jika tidak diimbangi sikap yang jelas terhadap isu-isu strategis, termasuk agenda ekonomi global.

Dorong Kemandirian Nasional

Sebagai solusi, Ali menekankan pentingnya memperkuat kemandirian nasional, terutama di sektor pertahanan, ekonomi, dan energi. Menurutnya, di tengah tatanan dunia yang semakin multipolar, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi aktor independen tanpa harus bergantung pada satu kekuatan tertentu.

Ia menilai, penguatan kapasitas domestik akan membuat Indonesia lebih leluasa menentukan sikap dan menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan geopolitik global. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =