JAKARTA, suarabersama.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (17/9/2026) dengan penguatan 0,27 persen. Kenaikan terjadi di tengah perhatian investor terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan data Refinitiv dalam perdagangan pagi, IHSG dibuka pada level 6.455,03, naik dari penutupan Rabu (16/9/2026) di posisi 6.436,85. Pada pukul 09.00 WIB, indeks berada di level 6.454,45 atau menguat 0,27 persen.
IHSG sempat bergerak ke level tertinggi 6.460,57 dan terendah 6.452,96 pada awal perdagangan.
Pergerakan tersebut terjadi setelah IHSG sehari sebelumnya ditutup turun 0,38 persen. Pada perdagangan Rabu, indeks sempat naik lebih dari 1 persen sebelum berbalik melemah hingga penutupan.
Di awal sesi Kamis, sebanyak 199 saham tercatat menguat, 150 saham melemah, sedangkan 614 saham belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp188,5 miliar dengan volume 398,8 juta saham dan frekuensi 31.180 transaksi.
Sentimen pasar global masih dipengaruhi keputusan The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4 persen. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 2023 dan The Fed masih membuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut.
Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana investor ke negara berkembang karena kenaikan imbal hasil aset berbasis dolar dapat meningkatkan daya tarik pasar Amerika Serikat. Pergerakan rupiah dan pasar saham Indonesia turut menjadi perhatian investor.
Dari sisi global, perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang dicermati pasar. Ketidakpastian di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi dan menambah tekanan terhadap inflasi global.
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar akan memperhatikan sejumlah kebijakan dan perkembangan ekonomi, termasuk rencana penerapan pemungutan PPh terhadap pedagang daring melalui marketplace mulai 1 Oktober 2026 serta penindakan terhadap emiten yang melanggar ketentuan pasar modal.
Investor juga menanti sejumlah data ekonomi internasional, seperti klaim pengangguran Amerika Serikat, inflasi final Zona Euro Agustus 2026, dan keputusan suku bunga Bank of England (BoE). Data tersebut dapat menjadi tambahan pertimbangan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter global. (kls)

