Suara Bersama

BMKG Perkuat Sistem Peringatan Dini, Pemerintah Dorong Masyarakat Semakin Tangguh Hadapi Bencana

Suarabersama— Pemerintah terus memperkuat upaya mitigasi bencana melalui peningkatan kualitas informasi cuaca dan iklim yang dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong penerapan prakiraan berbasis dampak atau Impact Based Forecast (IBF) sebagai bagian dari strategi membangun masyarakat yang semakin tangguh menghadapi risiko bencana.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa peringatan dini harus dapat diterjemahkan menjadi aksi dini. Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim yang meningkatkan risiko kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang dapat berdampak terhadap kesehatan, ketersediaan air, pangan hingga energi.

Melalui IBF, informasi yang diberikan tidak hanya menjelaskan potensi bahaya, tetapi juga membantu mengidentifikasi siapa yang berpotensi terdampak dan seberapa besar risikonya. Sistem tersebut memadukan data observasi, analisis, pemodelan, penilaian dampak hingga penyusunan prakiraan yang lebih relevan bagi masyarakat dan berbagai sektor pembangunan.

BMKG juga terus memanfaatkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, termasuk Numerical Weather Prediction, prediksi iklim, model hidrologi, kecerdasan buatan atau AI, hingga pemodelan tsunami. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan sistem informasi kebencanaan yang semakin modern, akurat dan dapat ditindaklanjuti.

Penguatan layanan tersebut tidak hanya dilakukan pada tingkat pusat. BMKG memberikan pendampingan kepada berbagai sektor di daerah hingga tingkat kelurahan melalui unit pelaksana teknis yang tersebar di 191 titik. Dengan jangkauan tersebut, informasi kebencanaan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan informasi BMKG terlihat di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Peringatan dini mengenai potensi kekeringan akibat El Nino dimanfaatkan untuk melakukan percepatan jadwal tanam, memilih varietas padi berumur genjah, serta menggunakan sumber air alternatif. Langkah adaptasi tersebut berhasil menyelamatkan 7.067 hektare lahan pertanian dari potensi gagal panen.

Upaya tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan sistem peringatan dini tidak berhenti pada penyampaian informasi. Pemerintah terus mendorong agar informasi ilmiah dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan sektor terkait untuk mengambil langkah antisipasi sebelum bencana menimbulkan dampak yang lebih besar.

Penguatan IBF sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun budaya kesiapsiagaan nasional. Dengan dukungan teknologi, ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia terus memperkuat kemampuan menghadapi tantangan perubahan iklim dan berbagai potensi bencana di masa mendatang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − twelve =