Jakarta, suarabersama.com – Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus Campak tertinggi kedua di dunia. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia menunjukkan terdapat 10.744 kasus campak di Indonesia, berada di bawah Yaman yang menempati posisi pertama dengan 11.288 kasus.
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan meningkatnya kasus campak berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi di masyarakat. Ia menilai masih ada sebagian orang tua yang ragu memberikan vaksin kepada anaknya.
Menurut Piprim, kondisi ini menjadi kemunduran karena Indonesia sebelumnya pernah memiliki cakupan imunisasi yang tinggi.
Penularan Sangat Cepat
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Angka reproduksi dasar penyakit ini diperkirakan berada pada kisaran 12 hingga 18, yang berarti satu penderita dapat menularkan virus kepada belasan orang lainnya.
Untuk mencegah penularan luas, cakupan imunisasi campak idealnya berada di atas 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok atau Herd Immunity.
Namun saat ini cakupan imunisasi disebut mengalami penurunan dari sebelumnya sekitar 95 persen menjadi sekitar 80 persen. Penurunan tersebut dinilai cukup untuk memicu kejadian luar biasa (KLB) campak di suatu wilayah.
Risiko Komplikasi Berat
Direktur Rumah Vaksinasi Pusat, Elsa Hufaidah, menjelaskan campak dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah atau gizi kurang.
Beberapa komplikasi yang bisa muncul antara lain Pneumonia, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, infeksi telinga yang berisiko mengganggu pendengaran, hingga Ensefalitis.
Ia menegaskan vaksinasi jauh lebih aman dibandingkan menunggu infeksi alami, karena tingkat keparahan penyakit pada setiap anak tidak dapat diprediksi.
Imbauan Lengkapi Imunisasi Anak
Menjelang mobilitas tinggi saat Idul Fitri, para dokter mengimbau orang tua memastikan anak telah mendapatkan vaksin campak secara lengkap. Sesuai rekomendasi IDAI, vaksin campak diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta usia 5 hingga 7 tahun.
Sebagai upaya pencegahan, IDAI bersama Rumah Vaksinasi Pusat juga menggelar vaksinasi massal gratis bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kembali cakupan vaksinasi dan menekan lonjakan kasus campak di Indonesia. (kls)



