Suarabersama.com – Tokoh agama, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan di Sulawesi Selatan memperkuat kolaborasi dalam upaya mencegah penyebaran Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) melalui penguatan literasi digital dan nilai-nilai kebangsaan. Komitmen tersebut diwujudkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan sebagai persiapan Kampanye Publik Anti-IRET yang akan dilaksanakan di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard Makassar.
Pertemuan dihadiri oleh Ketua Umum MUI Sulsel KH. Najamuddin, Sekretaris Umum MUI Sulsel sekaligus Ketua FKUB Sulsel Prof. Muammar Bakry, Ketua Umum ICATT Mallingkai Ilyas, serta Ketua FKLA sekaligus Wakil Ketua MUI Sulsel Prof. KH. Mustari Bosra. Kegiatan tersebut menegaskan pentingnya sinergi lintas agama dan berbagai elemen masyarakat dalam memperkuat ketahanan sosial di tengah perkembangan teknologi digital.
Ketua Umum ICATT Mallingkai Ilyas menegaskan bahwa kampanye ini secara khusus menyasar generasi muda agar memiliki kemampuan menyaring informasi secara bijak serta mampu menjadi agen perdamaian.
“Pemuda adalah ujung tombak bangsa. Melalui kampanye ini, kita ingin meningkatkan literasi digital mereka, sehingga pemuda kita cerdas menyaring informasi dan menjadi pelopor perdamaian, bukan justru menjadi korban radikalisme,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Muammar Bakry menekankan pentingnya menguatkan nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan, seperti Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge, sebagai fondasi membangun kehidupan yang harmonis serta menangkal narasi kebencian di ruang digital maupun kehidupan sosial.
“Literasi masyarakat mengenai bahaya IRET harus ditingkatkan. Nilai toleransi dan cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini melalui ruang-ruang publik yang inklusif,” tegas Prof. Muammar.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. KH. Mustari Bosra menyampaikan bahwa pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme memerlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Keterlibatan berbagai organisasi lintas agama menjadi bukti kuatnya semangat persatuan dan ketahanan sosial masyarakat Sulawesi Selatan.
Ketua Umum MUI Sulsel KH. Najamuddin turut mengapresiasi sinergi seluruh mitra dalam menyukseskan kampanye tersebut serta mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menyebarkan pesan damai, toleransi, dan persatuan, baik di ruang publik maupun media sosial.
Melalui Kampanye Publik Anti-IRET, diharapkan semakin tumbuh kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memperkuat literasi digital, menolak penyebaran paham radikal dan ujaran kebencian, serta bersama-sama menjaga kerukunan demi mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, aman, dan harmonis. (*)



