JAKARTA, suarabersama.com – Pemerintah menilai gejolak yang terjadi di pasar keuangan domestik masih bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level 6.400-an sebelum akhirnya ditutup di kisaran 6.599. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat hingga mendekati level Rp17.600 per dolar AS.
Meski demikian, Purbaya menegaskan kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar ketimbang masalah mendasar pada perekonomian Indonesia.
Menurutnya, fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dan berbagai indikator makro yang relatif stabil. Karena itu, pemerintah optimistis tekanan di pasar keuangan dapat segera mereda.
“Yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek. Fokus pemerintah adalah menjaga agar pembangunan dan aktivitas ekonomi tetap berjalan baik,” ujarnya.
Purbaya juga menepis anggapan yang membandingkan pelemahan rupiah saat ini dengan krisis ekonomi 1998. Ia menilai kondisi keduanya sangat berbeda karena saat ini Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi dan belum menghadapi situasi resesi.
Menurut dia, kekhawatiran berlebihan justru dapat memperburuk persepsi pasar. Oleh karena itu, investor diminta tetap tenang dan melihat prospek ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Selain menjaga kepercayaan pasar, pemerintah juga mengambil langkah konkret untuk memperkuat stabilitas sektor keuangan. Salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara.
Purbaya mengungkapkan pemerintah mengalokasikan sekitar Rp2 triliun setiap hari untuk membeli surat utang negara. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga obligasi sekaligus menarik kembali minat investor, termasuk investor asing.
Dana yang digunakan berasal dari pengelolaan kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Menurutnya, kebijakan itu merupakan bagian dari manajemen kas yang tidak mengganggu kondisi fiskal negara.
Ia menjelaskan, stabilitas pasar obligasi berperan penting dalam menjaga aliran modal tetap berada di Indonesia. Jika pasar obligasi tetap menarik, investor asing dinilai tidak akan terburu-buru menarik dananya keluar, sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.
Pemerintah pun berharap kombinasi antara penguatan fundamental ekonomi dan langkah stabilisasi pasar dapat membantu memulihkan kepercayaan investor dalam waktu dekat.
Dengan berbagai upaya tersebut, Purbaya optimistis pergerakan rupiah maupun pasar saham akan kembali stabil seiring membaiknya sentimen pasar dan meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. (kls)



