Suara Bersama

Ekonomi Indonesia Tetap Kuat, Pertumbuhan dan Ketenagakerjaan Tunjukkan Tren Positif

Suarabersama.com – Perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan, hingga kondisi ketenagakerjaan, memperlihatkan perkembangan yang positif. Pemerintah juga terus menyiapkan berbagai kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi hingga semester II 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen. Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), nilai PDB atas dasar harga berlaku tercatat Rp6.552,1 triliun, sementara berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud menyampaikan terdapat lima lapangan usaha yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor tersebut meliputi industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

“Total kelima lapangan usaha tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB Indonesia,” terang Edy.

Perkembangan positif juga terlihat dari indikator kemiskinan. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025.

Secara geografis, penduduk miskin masih banyak berada di Pulau Jawa dengan jumlah 12,02 juta orang atau sekitar 52,42 persen dari total penduduk miskin nasional. Sementara itu, jumlah penduduk miskin paling rendah tercatat di Kalimantan dengan 870 ribu orang atau 3,79 persen.

Jika dibandingkan dengan September 2025, tingkat kemiskinan mengalami penurunan di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan terbesar tercatat di Pulau Jawa dengan 0,21 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai sejumlah indikator tersebut menjadi gambaran bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang kuat. Selain pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan, kondisi positif juga terlihat dari inflasi yang terkendali, sektor manufaktur yang kembali memasuki zona ekspansi, serta kinerja neraca perdagangan yang membaik.

“Pemerintah akan terus mengawal keberlanjutan tren ini melalui bauran kebijakan yang antisipatif dan responsif. Dengan begitu, daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif dan prospek ekonomi nasional ke depan tetap cerah,” ujar Airlangga.

Pemerintah juga terus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Ketahanan pangan dan energi serta pengendalian inflasi menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Upaya tersebut tercermin dari perkembangan inflasi Juli 2026 yang masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi tercatat 2,88 persen secara tahunan, turun dibandingkan Juni 2026 yang berada di level 3,34 persen.

Di sektor ketenagakerjaan, jumlah penduduk yang bekerja juga menunjukkan perkembangan positif. Hingga periode Februari-Mei 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, dengan tambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 522 ribu orang.

Pada periode yang sama, jumlah pengangguran turun menjadi 7,22 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga mengalami penurunan menjadi 4,65 persen. Di sisi lain, proporsi tenaga kerja formal terus menunjukkan peningkatan.

Berbagai indikator tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan kebijakan yang terus diarahkan untuk menjaga daya beli, mengendalikan inflasi, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat sektor produktif, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =