Suarabersama.com – Menteri Luar Negeri Indonesia bersama sembilan negara lainnya menyampaikan kecaman keras terhadap aksi militer Israel yang kembali mencegat konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza di perairan Siprus, termasuk penahanan warga sipil dan aktivis kemanusiaan.
Dalam pernyataan bersama yang diunggah akun resmi Kementerian Luar Negeri RI, para menteri luar negeri dari Indonesia, Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional.
“Para menteri mengecam sekeras-kerasnya serangan Israel yang kembali dilancarkan terhadap Global Sumud Flotilla, inisiatif kemanusiaan sipil yang bertujuan untuk menarik perhatian internasional terhadap penderitaan rakyat Palestina,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.
Para Menlu juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas intervensi Israel terhadap armada-armada kemanusiaan sebelumnya di perairan internasional serta mengutuk aksi penahanan terhadap aktivis dan kapal sipil.
“Serangan-serangan ini, termasuk serangan terhadap kapal-kapal dan penahanan sewenang-wenang terhadap para aktivis, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional,” demikian dikutip dalam pernyataan itu.
Selain menuntut pembebasan seluruh aktivis yang ditahan, para Menlu juga meminta Israel menghormati hak dan keselamatan para peserta sipil dalam misi kemanusiaan tersebut.
Mereka menilai serangan berulang terhadap armada bantuan mencerminkan pengabaian terhadap kebebasan navigasi internasional dan perlindungan terhadap misi kemanusiaan.
Dalam pernyataannya, para Menlu turut mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret guna menghentikan impunitas dan memastikan akuntabilitas atas pelanggaran yang terjadi.
Kementerian Luar Negeri RI menyebut sedikitnya sepuluh kapal dalam konvoi Global Sumud Flotilla dicegat pasukan Israel, di antaranya kapal “Amanda”, “Barbaros”, “Josef”, dan “Blue Toys”.
Kapal “Josef” diketahui membawa seorang warga negara Indonesia bernama Andi Angga Prasadewa yang merupakan delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) – Rumah Zakat.
Sementara itu, komunikasi masih dilakukan dengan kapal yang membawa jurnalis Republika Bambang Noroyono guna memastikan kondisi para penumpang di dalamnya.
“Kemlu RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam pernyataan resmi di Jakarta, Senin malam (18/5).
Yvonne memastikan pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan sejumlah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan untuk memastikan keselamatan WNI yang terdampak.
“Kemlu RI via Direktorat Pelindungan WNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka,” kata dia.
Sementara itu, Perdana Menteri Anwar Ibrahim juga kembali mengecam tindakan Israel yang menahan lebih dari 100 aktivis kemanusiaan dalam misi Gaza Global Sumud Flotilla 2.0.
“Tindakan yang dilakukan terhadap misi bantuan kemanusiaan tersebut bukan saja melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional, tetapi juga memperlihatkan kesewenang-wenangan rezim Zionis dalam menutup akses bantuan, membungkam suara kemanusiaan, serta menindas siapa pun yang bangkit mempertahankan dan membela rakyat Palestina,” ujar Anwar Ibrahim.
Anwar menyebut terdapat 16 warga Malaysia yang ikut ditahan dalam operasi tersebut dan menegaskan bahwa dunia internasional tidak boleh terus diam terhadap tindakan Israel.(*)



