Jakarta, suarabersama.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lemahnya pengawasan dalam proyek infrastruktur besar seperti Whoosh dan LRT Jabodebek. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyebab utama terjadinya pembengkakan biaya hingga puluhan triliun rupiah.
Menurut Purbaya, sejumlah proyek strategis sebenarnya memiliki konsep yang baik, namun minim pengawasan dalam pelaksanaan. Akibatnya, berbagai kendala di lapangan tidak tertangani dengan cepat dan berujung pada lonjakan biaya.
Ia mencontohkan proyek Whoosh yang sejak awal menghadapi berbagai hambatan, termasuk lambatnya pembebasan lahan dan koordinasi antarinstansi yang tidak jelas. Bahkan, pihak investor sempat mempertanyakan progres proyek yang dinilai berjalan lambat.
Purbaya juga menyinggung masalah birokrasi yang berbelit, di mana tanggung jawab pengawasan proyek kerap tidak jelas dan saling dilempar antar lembaga. Hal ini memperparah keterlambatan dan meningkatkan risiko pembengkakan anggaran.
Berdasarkan catatan, proyek kereta cepat tersebut mengalami cost overrun sekitar 1,2 miliar dolar AS atau setara Rp18 triliun. Total biaya pembangunannya kini mencapai lebih dari 7 miliar dolar AS.
Belajar dari pengalaman itu, pemerintah menekankan pentingnya pengawasan ketat dan koordinasi solid dalam setiap proyek ke depan. Purbaya menilai, pemantauan berbasis data dan pelaksanaan yang disiplin menjadi kunci agar proyek berjalan tepat waktu dan efisien.
Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan mengendalikan proyek dapat berdampak pada kepercayaan investor. Jika biaya terus membengkak dan proyek molor, minat investasi berpotensi menurun. Karena itu, pemerintah berkomitmen memperbaiki tata kelola proyek infrastruktur agar lebih terukur, transparan, dan akuntabel di masa mendatang. (kls)



