Jakarta suarabersama.com ,Google Earth baru-baru ini memperbarui citranya untuk menampilkan skala kehancuran yang mengerikan di Gaza, yang telah berubah menjadi puing-puing akibat serangan militer Israel. Wilayah yang seluas 365 km persegi ini, yang dikenal sebagai salah satu daerah terpadat di dunia, mengalami kerusakan parah pada infrastruktur, termasuk perumahan, rumah sakit, dan sekolah.
Pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah melarang akses bagi jurnalis asing, penyelidik independen, dan beberapa organisasi hak asasi manusia ke Gaza. Dalam laporan yang dikutip dari The Independent, jurnalis Bel Trew mengungkapkan bahwa dia terbang di atas wilayah yang dilanda perang tersebut dan mencatat puing-puing yang tersisa dari kota-kota yang dulunya ramai, menjadikan Gaza dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Kondisi Memprihatinkan di Gaza
Barry Andrews, Anggota Parlemen Eropa dari Dublin, menyatakan bahwa citra satelit terbaru tentang Gaza sangat mencengangkan. Dia menggambarkan situasi di sana seolah-olah ada kekuatan besar yang menghancurkan semua yang ada, dengan bangunan-bangunan yang masih berdiri dalam keadaan goyah. Awal bulan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan agar penyelidik internasional diberikan akses untuk mengumpulkan bukti dan mendokumentasikan dugaan pelanggaran hak asasi manusia, seiring dengan penemuan sisa-sisa jasad manusia di antara puing-puing.
Laporan PBB yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa Gaza sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam sejarah. Sekitar 90 persen warga Palestina yang berada dalam usia kerja kini menganggur, dan PDB per kapita tahunan anjlok menjadi hanya USD 212, atau sekitar USD 0,58 per hari. Hanya 1,5 persen lahan subur yang dapat diakses oleh warga Palestina, dengan aktivitas pertanian dan industri mengalami penurunan drastis hingga 94 persen.
Kerugian Manusia dan Infrastruktur
Palang Merah melaporkan bahwa saat ini hanya ada satu ekskavator yang berfungsi penuh untuk membersihkan puing-puing di seluruh Gaza, sementara ribuan orang diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan. Tim forensik di Gaza juga menyatakan bahwa kurangnya pengujian DNA menyebabkan ratusan jenazah tidak teridentifikasi. Hingga saat ini, sedikitnya 1.129 jenazah telah dievakuasi dari puing-puing, namun banyak di antaranya dibiarkan tanpa nama.
Diperkirakan terdapat sekitar 60 juta ton puing-puing yang tersebar di seluruh Gaza akibat pengeboman yang dilakukan oleh Israel. Para ahli memperkirakan bahwa proses pembersihan puing-puing ini dapat memakan waktu puluhan tahun, tetapi bisa diselesaikan dalam waktu sekitar tujuh tahun jika sumber daya yang memadai tersedia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa sekitar 90 persen rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan atau hancur, sementara lebih dari 90 persen unit perumahan rusak atau hancur.
Situasi ini membuat hampir seluruh penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal, dan banyak di antara mereka terpaksa bertahan hidup di sisa-sisa bangunan yang runtuh. Tragisnya, setidaknya 21 orang tewas awal bulan ini ketika sebuah bangunan runtuh menimpa keluarga-keluarga Palestina yang berlindung di dalamnya, termasuk delapan anak yang juga menjadi korban dalam insiden tersebut.
Sumber: detikinet





Tanggapan
0Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.