JAKARTA, Suarabersama — Pengamat Politik dan Militer, Selamat Ginting, menyayangkan sikap sejumlah media massa yang dinilai kurang melakukan klarifikasi (cross-check) terkait isu adanya puluhan anggota TNI yang mendatangi kantor kepolisian baru-baru ini. Menurutnya, informasi yang beredar di publik mengenai jumlah personel dan situasi di lapangan cenderung berlebihan.
“Saya juga bingung kok media massa tidak cross-check terlebih dahulu. Misalnya ada (pemberitaan) 50 TNI menggeruduk kepolisian, padahal ini kan belum diklarifikasi,” ujar Selamat Ginting dalam sebuah wawancara daring.
Menurut data yang dihimpun Ginting, jumlah personel TNI yang hadir di lokasi sebenarnya hanya 10 orang, bukan 50 seperti yang ramai diberitakan. Rombongan tersebut dipimpin oleh Brigjen Wahyu Yudhayanto, Brigjen Anggiat Napitupulu, serta didampingi oleh seorang kolonel.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran para perwira tinggi tersebut memang dikawal oleh pasukan bersenjata karena merupakan bagian dari Satgas PKH (Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI).
“Mereka, Wahyu Yudhayanto ini, sudah berkoordinasi dengan rekan sejawatnya, Brigjen Polisi Ari Syofyan Nasution, yang sama-sama merupakan mantan ajudan presiden,” jelas Ginting.
Lebih lanjut, Ginting menegaskan bahwa pertemuan antar-perwira tersebut berlangsung kondusif tanpa adanya ketegangan. Pertemuan diisi dengan diskusi santai agar tidak menimbulkan kegaduhan di wilayah Jakarta.
“Itu ngopi-ngopi aja, nanya supaya jangan sampai terjadi kehebohan di Jakarta. Setelah itu mereka salat subuh berjamaah lalu pulang. Jadi tidak ada masalah dan tidak ada ketegangan seperti tudingan orang-orang,” tambahnya.
Sebagai penutup, Ginting mengingatkan pentingnya penerapan prinsip dasar jurnalistik bagi media dalam menyebarkan informasi sensitif guna menjaga kondusivitas publik.
“Saya dengan background jurnalis pasti selalu cross-check dulu sebelum berbicara,” pungkasnya.



