JAKARTA, suarabersama.com – Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan belum melihat kebutuhan untuk membentuk tim investigasi khusus guna mengusut sejumlah insiden penembakan di Papua, termasuk kasus yang menewaskan seorang ibu hamil di Kabupaten Intan Jaya.
Wakil Menteri HAM Mugiyanto mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya berkoordinasi dengan aparat penegak hukum. Menurutnya, proses penyelidikan yang saat ini dilakukan dinilai masih berjalan dan mencakup penanganan secara menyeluruh.
“Sebelumnya kami mempertimbangkan pembentukan tim investigasi. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari aparat, proses penanganan sudah berjalan sehingga untuk saat ini belum diperlukan tim khusus,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/7).
Dalam kesempatan yang sama, Asisten Utama Operasi (Astamaops) Kapolri Komjen Fadil Imran menjelaskan bahwa penyelidikan kasus penembakan terhadap ibu hamil di Intan Jaya saat ini ditangani oleh TNI.
Sementara itu, untuk kasus penembakan terhadap pilot AMA Air di Papua, Fadil mengatakan TNI dan Polri terus berkoordinasi dalam proses penegakan hukum. Menurutnya, identifikasi terhadap pelaku telah dilakukan dan saat ini aparat tinggal melanjutkan proses pencarian serta penetapan tersangka.
Ia menambahkan, Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Satgas Penegakan Hukum telah bekerja di lapangan sehingga belum diperlukan pembentukan tim investigasi tambahan.
Sebelumnya, Koops TNI Habema menjelaskan kronologi penembakan yang menewaskan Melkiana Dwitau, seorang ibu hamil, di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada 3 Juli lalu.
Berdasarkan hasil analisis awal, TNI menyebut tembakan berasal dari kelompok bersenjata yang dipimpin Peles Tigau. Serangan disebut dilakukan dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit.
Menurut Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, personel Satgas TNI tidak membalas tembakan selama insiden berlangsung. Keputusan tersebut diambil karena kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang terbatas sehingga prajurit memilih berlindung untuk menghindari risiko terhadap warga sipil.
Analisis spasial yang dilakukan TNI menunjukkan ketiga titik asal tembakan berada pada jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter dari lokasi kejadian. Adapun posisi korban disebut berjarak sekitar 321 meter dari salah satu sumber tembakan dan berada lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
TNI menegaskan seluruh data tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan yang terus didalami bersama fakta-fakta lapangan untuk mengungkap secara utuh peristiwa penembakan tersebut. (kls)



