Suarabersama.com – Negara-negara yang tergabung dalam organisasi Developing Eight (D-8) terus memperkuat sinergi ekonomi sebagai langkah menghadapi tantangan global sekaligus memperluas peluang pertumbuhan kawasan. Melalui Roadmap D-8 2030, organisasi tersebut menargetkan nilai perdagangan antarnegara anggota mencapai 500 miliar dolar AS pada akhir dekade ini.
Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pembukaan D-8 Halal Expo Indonesia yang berlangsung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Forum ini menjadi wadah untuk mempererat kemitraan ekonomi sekaligus mendorong kolaborasi di berbagai sektor strategis.
Sekretaris Jenderal D-8, Sohail Mahmood, menyampaikan bahwa perdagangan antarnegara anggota terus menunjukkan perkembangan yang positif. Saat ini nilai perdagangan intra-D-8 telah mencapai sekitar 116 miliar dolar AS, yang dinilai menjadi modal awal untuk mencapai target perdagangan yang lebih besar pada tahun 2030.
Menurut Sohail, negara-negara anggota memiliki potensi besar untuk memperluas kerja sama melalui penguatan investasi, peningkatan kapasitas industri, serta pemanfaatan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menilai momentum tersebut menjadi peluang penting bagi negara-negara anggota D-8 untuk memperkuat ketahanan ekonomi di tengah perubahan dinamika geopolitik dunia. Ia menegaskan bahwa semakin kuatnya komitmen para pemimpin negara anggota menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama ekonomi yang lebih produktif.
Selain memperkuat perdagangan, D-8 juga mendorong percepatan penyelesaian berbagai hambatan yang selama ini memengaruhi arus barang dan jasa, seperti penyederhanaan regulasi, peningkatan efisiensi logistik, serta harmonisasi kebijakan perdagangan agar aktivitas ekonomi lintas negara menjadi semakin kompetitif.
Berbagai sektor prioritas turut menjadi perhatian dalam implementasi Roadmap D-8 2030, di antaranya pengembangan ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), inovasi industri, ketahanan energi, ketahanan pangan, konektivitas transportasi, pemberdayaan UMKM, pariwisata, hingga pembangunan ekonomi hijau.
Dalam kesempatan tersebut, ekonomi halal dipandang sebagai salah satu sektor yang memiliki prospek pertumbuhan paling menjanjikan. Dengan dukungan kapasitas produksi, jaringan perdagangan, sistem sertifikasi halal yang diakui secara internasional, serta pasar konsumen yang terus berkembang, negara-negara anggota D-8 dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Untuk mempercepat pencapaian tersebut, D-8 menginisiasi pengembangan koridor perdagangan halal yang terintegrasi melalui penyelarasan standar sertifikasi, penguatan sistem logistik halal, dan penyederhanaan prosedur perdagangan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus memperluas akses pasar bagi produk-produk unggulan negara anggota.
Sebagai salah satu anggota pendiri D-8, Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat diplomasi ekonomi dan mendorong kolaborasi yang saling menguntungkan. Melalui sinergi yang semakin erat dengan negara-negara anggota, Indonesia optimistis kerja sama D-8 akan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas peluang investasi, serta memperkuat stabilitas ekonomi kawasan dan global.(*)



