Jakarta, suarabersama.com – Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih tersendat meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah diumumkan. Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk karena pelaku industri menunggu kejelasan teknis pelayaran.
Data terbaru menunjukkan ratusan kapal masih berada di jalur tersebut, termasuk kapal yang mengangkut jutaan barel minyak mentah. Kondisi ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara dan rencana membuka kembali jalur pelayaran.
Meski demikian, pelaku industri menilai situasi belum sepenuhnya aman. Ketidakjelasan prosedur dan koordinasi antara pihak terkait membuat banyak pemilik kapal memilih menunda perjalanan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan pihaknya siap memberikan jalur aman bagi kapal jika serangan terhadap negaranya dihentikan. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala teknis.
Pengamat pelayaran menyebut, butuh waktu lebih dari dua pekan untuk mengurai kemacetan, bahkan dalam kondisi normal. Selain itu, kepercayaan pelaku industri belum sepenuhnya pulih setelah konflik yang memicu penutupan jalur vital tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Penutupan sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu rantai pasok internasional.
Sejumlah perusahaan energi dan pelayaran masih bersikap hati-hati. Mereka menunggu kepastian keamanan sebelum kembali mengirim kapal ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, berbagai negara termasuk Indonesia terus melakukan upaya diplomasi untuk memastikan keselamatan kapal yang terdampak. Pemerintah juga berkoordinasi dengan otoritas terkait guna membuka kembali jalur distribusi energi secara aman.
Meski peluang pelayaran mulai terbuka, pemulihan arus logistik di Selat Hormuz diperkirakan berlangsung bertahap seiring stabilitas keamanan yang belum sepenuhnya pulih. (kls)



