Jakarta, suarabersama.com – Dua kapal kargo milik perusahaan pelayaran Iran dilaporkan meninggalkan sebuah pelabuhan kimia di China dengan muatan yang diduga berkaitan dengan bahan bakar roket. Kedua kapal tersebut kini tengah berlayar menuju Iran setelah sebelumnya bersandar di pelabuhan Gaolan di wilayah Zhuhai, pesisir tenggara China.
Berdasarkan analisis data pelacakan kapal, citra satelit, serta catatan sanksi internasional, muatan yang dibawa kapal tersebut diduga merupakan bahan kimia penting yang berpotensi digunakan dalam program pengembangan misil Iran.
Kapal Milik Perusahaan yang Disanksi
Dua kapal yang dimaksud adalah Shabdis dan Barzin, yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran milik negara Iran, Islamic Republic of Iran Shipping Lines.
Perusahaan tersebut saat ini berada di bawah sanksi dari Amerika Serikat, Britania Raya, dan Uni Eropa. Washington menuduh perusahaan tersebut kerap terlibat dalam pengiriman material yang berkaitan dengan program misil balistik Iran.
Sebelum meninggalkan China, kedua kapal itu sempat berlabuh di pelabuhan Gaolan di kota Zhuhai. Fasilitas pelabuhan tersebut dikenal sebagai pusat penyimpanan dan distribusi bahan kimia industri dalam jumlah besar.
Diduga Mengangkut Bahan Baku Propelan Roket
Sejumlah pakar yang memantau pergerakan kapal memperkirakan muatan yang diangkut kemungkinan berupa sodium perchlorate, bahan kimia yang menjadi komponen penting dalam pembuatan bahan bakar roket padat.
Peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Isaac Kardon, mengatakan pola perjalanan kapal tersebut serupa dengan pengiriman sebelumnya yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun terakhir.
Menurut Kardon, pemerintah China sebenarnya memiliki berbagai mekanisme administratif yang memungkinkan mereka menunda atau menahan keberangkatan kapal tersebut jika diperlukan. Namun, langkah tersebut tidak dilakukan.
Ia menilai hal tersebut cukup mencolok mengingat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat sedang meningkat akibat konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Menuju Pelabuhan Strategis Iran
Hingga akhir pekan lalu, kedua kapal dilaporkan berada di wilayah Laut China Selatan dalam perjalanan menuju Iran.
Kapal Barzin sempat terlihat berada di lepas pantai Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Bandar Abbas, yang berjarak sekitar 4.000 mil dari titik keberangkatan.
Sementara itu, kapal Shabdis diperkirakan menuju pelabuhan Chabahar, dengan estimasi tiba pada pertengahan Maret.
Kedua pelabuhan tersebut berada di kawasan dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer dan pangkalan angkatan laut Iran.
Kebutuhan Iran Diperkirakan Meningkat
Amerika Serikat sebelumnya telah menjatuhkan sanksi yang secara khusus menargetkan pengiriman sodium perchlorate dan bahan kimia serupa dari China ke Iran. Bahan tersebut digunakan untuk memproduksi ammonium perchlorate, komponen utama dalam propelan misil berbahan bakar padat.
Selama bertahun-tahun, Washington menuduh Beijing membiarkan transfer material yang berpotensi mendukung program misil Iran. Namun, pemerintah China membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa sebagian besar transaksi tersebut merupakan perdagangan komersial biasa yang memiliki penggunaan ganda.
Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya belasan kapal lain milik IRISL juga tercatat mengunjungi pelabuhan Gaolan sebelum akhirnya berlabuh di pelabuhan Shahid Rajaee Port, terminal kontainer utama Iran di dekat Bandar Abbas.
Keberangkatan terbaru kedua kapal ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas misil Iran. Para analis menilai kerusakan akibat serangan tersebut kemungkinan meningkatkan kebutuhan Teheran terhadap komponen bahan bakar roket untuk memperkuat kembali kemampuan militernya. (kls)



