Jakarta, suarabersama.com – Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP) Gaza apabila forum tersebut tidak mampu mendorong terwujudnya kemerdekaan Palestina.
Pernyataan itu disampaikan saat Presiden berdialog dengan perwakilan organisasi masyarakat Islam dan tokoh muslim di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Cholil Nafis, yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan Presiden memberi ruang bagi Indonesia untuk tidak mengikuti keputusan BoP jika dinilai tidak sejalan dengan kepentingan nasional.
“Jika kebijakan BoP tidak sesuai dengan pandangan Indonesia, kita bisa tidak ikut. Bahkan jika tidak ada perubahan, Presiden siap keluar dari BoP,” ujar Cholil mengutip pernyataan Prabowo.
Dalam pertemuan yang dihadiri lebih dari 40 tokoh dan ulama itu, Presiden juga menjelaskan alasan Indonesia bergabung dalam forum tersebut. Selain menyampaikan pandangan pemerintah, Prabowo juga menerima berbagai masukan dan kritik dari para tokoh agama.
Salah satu kekhawatiran yang disampaikan adalah potensi keterlibatan pasukan perdamaian Indonesia yang justru dapat bertentangan dengan perjuangan rakyat Palestina.
“Kami tidak ingin hanya damai semu sementara Palestina masih terjajah. Yang kami harapkan adalah perdamaian sekaligus kemerdekaan bagi Palestina,” kata Cholil menyampaikan sikap MUI.
Menanggapi hal tersebut, Presiden menegaskan Indonesia akan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri yang mendukung kemerdekaan Palestina. Jika arah kebijakan BoP tidak sejalan dengan tujuan tersebut, Indonesia tidak akan ragu untuk mengambil sikap, termasuk keluar dari forum tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono membenarkan bahwa opsi tersebut memang terbuka. Menurutnya, tujuan utama Indonesia adalah terciptanya perdamaian di Gaza dan kemerdekaan penuh bagi Palestina. “Jika arah kebijakan tidak sesuai dengan tujuan itu, tentu kita akan mempertimbangkan langkah selanjutnya,” ujar Sugiono. (kls)



