Suara Bersama

Target Ekonomi 8 Persen, Ekonom Dorong Investasi dan Penguatan Industri Manufaktur

Suarabersama.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mencapai level 8 persen apabila pemerintah mampu memperkuat investasi, menjaga stabilitas rupiah, serta meningkatkan kualitas kinerja pemerintah.

ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan, investasi menjadi salah satu faktor utama yang perlu didorong untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, iklim investasi harus dibuat semakin menarik agar investor tidak hanya masuk, tetapi juga melakukan investasi kembali di Indonesia.

“Mau tambah satu persen poin itu dari investasi. Jadi kita harus bikin iklim investasi itu bagus. Orang mau reinvest,” kata dia dalam UOB Media Editors Circle 2026 Powering Indonesia’s Next Engine of Growth, Rabu (12/8/2026).

Selain investasi, Enrico menilai pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan industri berbasis lokal. Produk dalam negeri dinilai memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan dan dipasarkan ke luar negeri.

“Rupiah melemah itu bagus, kita coba galakkan sektor usaha berbasis lokal untuk dijual ke luar, kayu nih, jual ke luar,” imbuh dia.

Menurut Enrico, kualitas belanja pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Ia mencermati konsumsi fiskal turut membantu perekonomian Indonesia pada kuartal II-2026, tetapi kondisi tersebut perlu diperhatikan karena ruang defisit APBN memiliki batas.

“Ini tidak sustainable, karena kita punya limit 3 persen doang defisitnya,” ucap dia.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga atau konsumsi privat disebut masih menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi melemahnya tingkat kepercayaan konsumen di Indonesia.

Enrico juga menyoroti besarnya peran sektor informal dalam perekonomian nasional. Lebih dari separuh aktivitas ekonomi disebut masih ditopang sektor informal yang tetap memberikan kontribusi penting terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.

“Artinya mereka yang kerja tanpa masuk, bayar pajak, ataupun tidak punya NPWP itu banyak sekali, tapi mereka kerja, dan mereka yang menopang kita waktu Covid-19,” ungkap dia.

Sementara itu, Enrico melihat sektor manufaktur tetap memiliki posisi penting dalam struktur ekonomi Indonesia. Meski sejumlah perusahaan asing disebut menutup kantornya di Indonesia, perusahaan nasional dinilai masih memiliki kekuatan struktural.

“Nah manufaktur itu buat saya menjadi tulang punggung, cuma distribusi secara pendanaan lagi agak mandek,” ucap dia.

Ia menilai penguatan pasar domestik juga perlu menjadi perhatian pelaku usaha. Ketika terdapat kekhawatiran terhadap pasar ekspor, perusahaan dapat memperluas distribusi produknya ke berbagai wilayah Indonesia sehingga konsumsi dalam negeri turut menjadi penggerak pertumbuhan.

“Produksi di Bandung, sepatu, jualnya sana ke Kalimantan, jangan ke Eropa,” tutup dia.

Dengan demikian, peluang mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dinilai membutuhkan kombinasi antara peningkatan investasi, penguatan manufaktur, optimalisasi pasar domestik, kualitas belanja pemerintah, serta pengembangan sektor usaha berbasis lokal. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + sixteen =