MERAUKE, Suarabersama – Pihak Keuskupan Agung Merauke secara resmi angkat bicara untuk memberikan tanggapan resmi terkait polemik dan gelombang penolakan yang muncul di tengah masyarakat mengenai pemutaran film berjudul Pesta Babi.
Langkah ini diambil oleh otoritas Gereja Katolik setempat guna meredam ketegangan, menjaga situasi tetap kondusif, serta memberikan pemahaman yang jernih bagi umat dan masyarakat luas di wilayah Merauke dan sekitarnya.
Dalam pernyataan resminya, pihak Keuskupan Agung Merauke menekankan pentingnya menghormati nilai-nilai adat, budaya, serta kesucian institusi keagamaan yang ada di Papua. Film Pesta Babi sebelumnya menuai kritik tajam karena dinilai memuat visualisasi atau narasi yang sensitif, salah satunya terkait dengan adegan pemasangan tanda penolakan lahan menggunakan simbol keagamaan tertentu.
Pihak keuskupan menyampaikan bahwa gereja selalu mendukung kebebasan berekspresi dan karya seni kreatif. Namun, ekspresi tersebut diharapkan tetap memperhatikan rambu-rambu budaya lokal, kearifan lokal, serta tidak mencederai rasa hormat terhadap simbol-simbol suci keagamaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat setempat.
Merespons keresahan yang sempat bergulir di media sosial maupun ruang publik, Keuskupan Agung Merauke mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya umat Katolik, untuk tidak terprovokasi dan menyikapi masalah ini dengan kepala dingin.
Selain itu, pihak Gereja Katolik mengharapkan adanya ruang dialog yang sehat antara pihak pembuat film, lembaga adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah. Melalui musyawarah dan komunikasi yang baik, diharapkan polemik ini dapat diselesaikan tanpa menimbulkan perpecahan atau konflik horizontal di tengah masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan damai.



