Jakarta, suarabersama.com – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk mulai membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas gizi nasional.
Menurutnya, setiap kampus idealnya memiliki setidaknya satu unit SPPG yang dapat dikelola secara mandiri, bahkan dengan memanfaatkan sumber daya dari civitas akademika. “Ini peluang besar, kampus bisa mulai dari satu SPPG terlebih dahulu,” ujarnya.
Sejumlah perguruan tinggi telah memulai langkah ini, termasuk Universitas Hasanuddin yang menjadi pelopor di kawasan Indonesia Timur. Selain itu, IPB University dan beberapa kampus swasta juga telah lebih dulu mengembangkan fasilitas serupa.
Dadan menilai kampus memiliki peran strategis dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis kampus.
Untuk mendukung operasional, satu unit SPPG membutuhkan infrastruktur cukup besar, termasuk lahan pertanian dan peternakan. Kebutuhan tersebut meliputi produksi beras, jagung sebagai pakan, hingga ribuan ayam petelur untuk memenuhi pasokan protein.
Lebih jauh, Dadan menekankan bahwa keberadaan SPPG dapat terintegrasi dengan kegiatan akademik. Mahasiswa berpeluang terlibat langsung dalam pengelolaan pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan, sekaligus menjadikan SPPG sebagai laboratorium riset dan inovasi.
Model ini telah diterapkan di Unhas, di mana berbagai program studi seperti gizi, kedokteran, pertanian, dan peternakan terlibat aktif dalam pengembangan sistem pelayanan gizi berbasis kampus.
BGN berharap pengembangan SPPG dapat memperkuat kolaborasi antara kampus, petani, peternak, serta pelaku usaha kecil dan menengah. Selain memenuhi kebutuhan gizi, program ini juga diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan. (kls)



