Suara Bersama

IMF: Harga Minyak Mulai Turun, Risiko Ekonomi Global Masih Mengintai

Jakara, suarabersama.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menilai meredanya konflik di Timur Tengah dan mulai normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi perekonomian dunia. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa ancaman terhadap stabilitas ekonomi global belum sepenuhnya hilang.

Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, mengatakan perang yang sempat melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi, perdagangan, hingga rantai pasok global. Meski kondisi mulai membaik, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung dalam waktu singkat.

Menurut IMF, harga minyak dunia kini telah turun dari titik tertingginya, meski masih berada sekitar 10 persen di atas level sebelum konflik terjadi. Penurunan juga terlihat pada harga gas alam, logam dasar, serta sejumlah komoditas pupuk yang sebelumnya sempat melonjak akibat terganggunya jalur perdagangan internasional.

“Kami menyambut baik penghentian konflik dan langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika kondisi ini dapat dipertahankan, tentu akan mendukung pertumbuhan ekonomi global,” ujar Kozack.

Meski demikian, IMF menilai normalisasi perdagangan internasional masih membutuhkan waktu. Banyak kapal yang sebelumnya tertahan akibat konflik masih dalam proses distribusi, sementara sebagian infrastruktur energi belum sepenuhnya pulih.

Selain pasar komoditas, IMF juga terus memantau perkembangan inflasi global. Beberapa bank sentral telah merespons gejolak ekonomi dengan menaikkan suku bunga, sementara negara lain memilih mempertahankan kebijakan moneternya.

Kozack menegaskan bahwa ekspektasi inflasi global sejauh ini masih terkendali. Namun, bank sentral diminta tetap waspada terhadap potensi tekanan harga yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Di sisi lain, kondisi keuangan global dinilai masih cukup longgar. Akses pembiayaan internasional tetap tersedia baik bagi negara maju maupun negara berkembang karena premi risiko pembiayaan masih relatif rendah.

Meski situasi mulai membaik, IMF mengingatkan negara-negara pengimpor energi tetap menjadi pihak yang paling rentan apabila terjadi gejolak baru. Negara dengan ruang fiskal terbatas dan cadangan energi yang minim dinilai menghadapi risiko paling besar jika harga energi kembali melonjak.

Karena itu, IMF menilai kewaspadaan tetap diperlukan meski pasar mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca meredanya konflik di kawasan Timur Tengah. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − six =