Jakarta, suarabersama.com – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membantah tudingan penistaan agama terkait pernyataannya tentang konflik Poso dan Ambon yang menuai polemik.
Melalui juru bicaranya, Husain Abdullah, disebutkan bahwa video yang beredar di media sosial telah dipotong dan kehilangan konteks utuh.
“Tuduhan itu muncul akibat pemotongan konteks. Kami menolak dengan tegas anggapan tersebut,” ujar Husain.
Ia menjelaskan, pernyataan JK disampaikan dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada dan bertujuan menegaskan bahwa tidak ada agama yang membenarkan tindakan saling membunuh.
Menurut Husain, JK saat itu menceritakan perannya dalam proses perdamaian konflik Poso dan Ambon pada awal 2000-an. Dalam penjelasannya, istilah yang digunakan merujuk pada kondisi saat kedua pihak yang bertikai sama-sama mengklaim legitimasi agama atas kekerasan yang terjadi.
“Justru yang diluruskan adalah pemahaman keliru bahwa kekerasan bisa dibenarkan atas nama agama,” katanya.
Laporan terhadap JK sebelumnya dilayangkan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia bersama sejumlah organisasi lainnya. Mereka menilai pernyataan tersebut menyinggung ajaran Kristen dan memicu keresahan.
Namun pihak JK menegaskan, pernyataan tersebut merupakan bagian dari penjelasan historis terkait konflik yang berhasil diselesaikan melalui perundingan damai, termasuk Deklarasi Malino I dan II.
Polemik ini kembali mengangkat sensitivitas isu agama di ruang publik, sekaligus pentingnya kehati-hatian dalam memahami konteks pernyataan tokoh. (kls)



