Suara Bersama

Israel Ungkap Dugaan Peretasan CCTV oleh Hacker Iran untuk Aksi Spionase

Jakarta, suarabersama.com – Otoritas siber Israel mengungkap adanya peningkatan aktivitas peretasan terhadap kamera pengawas (CCTV) di negara tersebut yang diduga dilakukan oleh kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran. Serangan siber ini diyakini berkaitan dengan kegiatan mata-mata sejak meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Direktorat Keamanan Siber Israel menyatakan telah menemukan puluhan upaya peretasan yang menargetkan perangkat kamera pengawas milik warga maupun fasilitas tertentu. Lembaga tersebut kini memperingatkan ratusan pemilik kamera agar segera memperkuat sistem keamanan perangkat mereka.

Dalam pernyataan resminya di media sosial pada Senin (10/3/2026), otoritas siber Israel meminta masyarakat segera mengganti kata sandi perangkat serta memperbarui perangkat lunak guna mengurangi risiko penyusupan digital yang dapat mengancam keamanan pribadi maupun nasional.

Peretasan Meningkat Sejak Serangan ke Iran

Perusahaan keamanan siber Check Point Software Technologies melaporkan bahwa aktivitas peretasan terhadap kamera pengawas meningkat signifikan setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Menurut Kepala Intelijen Siber Check Point, Gil Messing, rekaman video yang berhasil diakses peretas kemungkinan dimanfaatkan untuk dua tujuan utama.

Pertama, untuk menilai tingkat kerusakan akibat serangan militer. Kedua, untuk mengumpulkan informasi mengenai pola aktivitas individu tertentu atau memetakan lokasi yang berpotensi menjadi target serangan berikutnya.

Messing menegaskan bahwa pelaku peretasan tersebut bukan sekadar kelompok peretas independen, melainkan bagian dari operasi yang didukung negara.

Ia menyebut sebagian besar aktivitas tersebut diduga berkaitan dengan struktur militer Iran, termasuk jaringan yang berhubungan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps serta kementerian intelijen Iran.

Bagian dari Perang Siber Iran–Israel

Serangan siber antara Iran dan Israel sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari konflik tidak langsung atau “perang bayangan”. Namun ketegangan meningkat setelah konflik terbuka kembali memanas sejak 2025 dan semakin intens setelah operasi militer pada akhir Februari lalu.

Salah satu insiden yang menarik perhatian publik terjadi pada Desember 2025 ketika mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengaku menjadi korban peretasan digital.

Akun Telegram miliknya dilaporkan diretas, dan pelaku mengklaim berhasil mengakses data pribadi dari ponselnya. Sejumlah pesan pribadi, video, serta foto yang disebut terkait Bennett kemudian disebarkan melalui situs peretas bernama Handala, simbol digital yang sering digunakan dalam kampanye pro-Palestina.

Spionase Kamera Terjadi di Dua Pihak

Laporan media internasional juga menyebut praktik spionase melalui kamera pengawas bukan hanya dilakukan oleh Iran. Israel disebut telah lama memanfaatkan jaringan kamera lalu lintas di ibu kota Iran, Teheran, untuk kepentingan intelijen.

Peretasan terhadap jaringan kamera tersebut dilaporkan digunakan sebagai bagian dari persiapan operasi militer yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel.

Kasus ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya terjadi di medan perang konvensional, tetapi juga meluas ke ranah digital melalui perang siber dan operasi intelijen berbasis teknologi. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 7 =