Suara Bersama

Saingi Malaysia, RI Siap Bangun Ekosistem Semikonduktor Senilai USD125 Miliar

Jakarta, suarabersama.com – Pemerintah menegaskan ambisinya untuk masuk dalam peta persaingan industri semikonduktor Asia Tenggara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan Indonesia siap menantang dominasi Malaysia di sektor strategis tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam forum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bertajuk Road to Jakarta Food Security Summit 6 pada 13 Januari 2026. Menurutnya, Presiden telah memberikan lampu hijau untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional sebagai bagian dari strategi besar penguatan ekonomi digital.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan nilai ekonomi digital ASEAN berpotensi melonjak dari USD1 triliun menjadi USD2 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Dari total proyeksi tersebut, Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 40 persen atau setara USD600–700 miliar. Potensi pasar yang besar itu, kata Airlangga, harus diimbangi dengan kapasitas produksi teknologi di dalam negeri.

Ia menilai pengembangan industri semikonduktor akan memperkuat berbagai sektor, mulai dari internet of things (IoT), pusat data, hingga infrastruktur digital lain yang menopang transformasi ekonomi nasional.

Kejar Ketertinggalan dari Malaysia

Airlangga mengakui Malaysia lebih dahulu unggul dalam industri chip, terutama setelah masuknya investasi perusahaan asal Amerika Serikat, Fairchild Semiconductor, yang memperkuat posisi negeri jiran sebagai basis produksi dan pengujian semikonduktor.

Untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia menjalin kemitraan dengan Arm Holdings dari Inggris. Pemerintah bahkan menyiapkan pendanaan hingga USD125 miliar untuk mendukung kolaborasi tersebut, dengan peluang peningkatan nilai investasi di masa mendatang.

Arm sebelumnya diketahui turut menyusun peta jalan pengembangan semikonduktor bagi Malaysia. Dengan menggandeng perusahaan yang sama, Indonesia berharap dapat mempercepat proses catching up dan memanfaatkan besarnya pasar domestik sebagai daya tarik utama.

“Kita memang datang belakangan, tapi ini permainan mengejar ketertinggalan. Pasar kita besar, itu kekuatan kita,” ujar Airlangga.

Strategi Lepas dari Middle-Income Trap

Lebih jauh, Airlangga memandang pengembangan industri semikonduktor sebagai pintu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Industri berbasis inovasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah tinggi dan mendorong lonjakan produktivitas nasional.

Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, hingga Malaysia yang berhasil memperkuat fondasi ekonominya melalui sektor manufaktur teknologi tinggi. Industri chip, kata dia, memiliki efek berganda karena menjadi komponen utama berbagai produk elektronik dan sistem digital.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan produsen bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di tingkat regional dan global. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 2 =