Jakarta, suarabersama.com – Pemerintah menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap kuat di tengah tekanan global, termasuk lonjakan harga energi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun.
Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja bersama DPR RI. Pemerintah mengklaim APBN masih mampu menjadi penopang utama menghadapi gejolak ekonomi global, bahkan dengan asumsi harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.
Dari sisi penerimaan, kinerja fiskal menunjukkan tren positif. Hingga Maret 2026, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan penerimaan pajak, terutama dari PPN dan PPnBM, serta pajak penghasilan yang mencerminkan aktivitas ekonomi domestik masih solid.
Di sisi lain, belanja negara juga meningkat signifikan pada awal tahun. Pemerintah mempercepat pengeluaran untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus meredam dampak tekanan eksternal.
Meski demikian, defisit anggaran masih terkendali di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah juga memiliki cadangan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun sebagai bantalan menghadapi risiko global.
Stabilitas ekonomi turut tercermin dari inflasi yang masih terjaga serta aktivitas industri yang tetap ekspansif. Konsumsi masyarakat pun dinilai masih kuat, terlihat dari peningkatan penjualan kendaraan dan konsumsi semen.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 tetap berada di kisaran 5 persen lebih.
Purbaya menegaskan, berbagai langkah antisipatif telah disiapkan agar tekanan global tidak langsung membebani masyarakat, terutama melalui pengendalian inflasi dan menjaga harga energi tetap stabil. (kls)



