Suara Bersama

Jusuf Kalla Jelaskan soal Ceramahnya di UGM yang Berujung Dilaporkan ke Polisi

Jakarta, Suarabersama.com –  Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla buka suara menanggapi terkait ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi sorotan hingga berujung laporan polisi oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).

Jusuf Kalla menjelaskan, ceramah tersebut disampaikannya saat bulan suci Ramadan dengan tema perdamaian.

“Acara di UGM itu acara ceramah bulan puasa, saya diundang datang, karena temanya adalah perdamaian. Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian,” katanya dalam konferensi pers, Sabtu (18/4/2026).

Dalam ceramahnya tersebut, pria yang akrab disapa JK itu mengaku membahas sejumlah konflik baik yang terjadi di dunia maupun di Tanah Air.

“Kemudian mulai konflik dunia ini, konflik di eropa, perang dunia I, saya uraikan. Dan bagaimana 15 konflik di Indonesia, apa yang terjadi,” ujarnya.

“Ada konflik ideologi Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu.”

Kemudian, dalam beberapa menit, dirinya turut membicarakan terkait konflik Ambon dan Poso. Ia kemudian memaparkan ihwal penggunaan ‘mati syahid’ seperti dalam cuplikan video yang dipermasalahkan sejumlah pihak tersebut.

JK menjelaskan dirinya menggunakan kata syahid, bukan martir. Hal tersebut dikarenakan saat itu dirinya tengah memberikan ceramah di masjid, sehingga menurutnya hal tersebut hanyalah terkait istilah saja.

“Karena saya di masjid, maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak tahu,” ucapnya.

“Untuk menjelaskan, jangan sama sekali agama untuk berkonflik. Jangan.”

Ia menekankan dalam ceramahnya tersebut dirinya tidak berbicara ihwal dogma agama, melainkan terkait peristiwa yang terjadi saat itu.

Lebih lanjut, JK menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan.

Sebaliknya, ia menyinggung terkait perannya sebagai inisiator perdamaian dalam konflik Poso dan Ambon.

“Benar enggak saya penista agama? Saya damaikan ini apakah saya penista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid masuk ke daerah yang anda lihat tadi itu, masuk ke daerah itu. Tidak ada presiden yang bisa, jenderal-jenderal tidak bisa mendamaikannya,” tuturnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + nineteen =