Jakarta,Suarabersama.com – Pertemuan darurat para menteri luar negeri dari sekitar 40 negara digelar secara virtual pada Kamis (2/4) untuk membahas upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang secara de facto diblokade oleh Iran di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah.
Rapat tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, yang menekankan pentingnya mobilisasi tekanan diplomatik dan ekonomi secara kolektif guna memastikan jalur pelayaran vital tersebut dapat kembali dibuka secara aman dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa forum ini menjadi langkah strategis untuk merespons ancaman terhadap stabilitas perdagangan global.
Dalam paparannya, Cooper menjelaskan bahwa agenda pertemuan tidak hanya berfokus pada aspek diplomasi, tetapi juga mencakup penguatan kerja sama dengan sektor industri global, perusahaan asuransi, serta sektor energi. Upaya ini dinilai krusial untuk menjamin keamanan pelayaran, sekaligus melindungi kapal dan awak yang saat ini masih terjebak di wilayah tersebut.
Data yang disampaikan dalam forum menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Lebih dari 25 serangan terhadap kapal dilaporkan terjadi di Selat Hormuz, dengan sekitar 2.000 kapal dan 20.000 awak terdampak langsung akibat eskalasi konflik. Cooper secara tegas mengecam tindakan yang dinilai ceroboh oleh Iran terhadap negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik, karena telah mengganggu stabilitas keamanan ekonomi global.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh sejumlah negara anggota NATO seperti Prancis dan Jerman. Dari kawasan Asia, Korea Selatan juga berpartisipasi melalui Wakil Menteri Luar Negeri urusan kebijakan, Chung Eui-hye.
Namun demikian, Amerika Serikat dilaporkan tidak bergabung dalam pertemuan tersebut, meskipun memiliki kepentingan strategis yang besar terhadap stabilitas jalur energi global.
Forum ini diharapkan mampu menghasilkan langkah konkret dalam waktu dekat, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia, yang berperan besar dalam menjaga kestabilan pasokan minyak dan perekonomian global.



