Jakarta, suarabersama.com — Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak pada sektor energi global. Penutupan Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia dan lonjakan harga energi.
Sejumlah negara pun mulai menyiapkan langkah antisipatif, salah satunya dengan mengurangi mobilitas masyarakat melalui kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Kebijakan ini dinilai efektif menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Di kawasan Asia, Pakistan menjadi salah satu negara yang telah merancang penerapan WFH selama dua hari dalam sepekan. Kebijakan ini hanya mewajibkan kehadiran fisik bagi pegawai yang menjalankan fungsi vital.
Langkah serupa juga disiapkan Thailand. Pemerintah setempat berencana memberlakukan WFH bagi aparatur negara, kecuali bagi posisi yang membutuhkan pelayanan langsung kepada masyarakat.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) turut mendorong penerapan WFH secara global, khususnya pada sektor pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara jarak jauh. Langkah ini dinilai dapat mengurangi konsumsi energi secara signifikan dalam jangka pendek.
Di Indonesia, pemerintah juga mulai mengarah pada kebijakan serupa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa WFH akan diberlakukan setelah Lebaran sebagai bagian dari strategi penghematan energi.
Kebijakan tersebut akan diterapkan bagi aparatur sipil negara (ASN) dengan skema satu hari kerja dalam sepekan. Sementara untuk sektor swasta, pemerintah memberikan imbauan dengan penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing industri.
Penerapan WFH diharapkan mampu menekan mobilitas harian, mengurangi konsumsi BBM, serta membantu menjaga stabilitas energi nasional di tengah ketidakpastian global. (kls)



