Suara Bersama

Krisis Energi Global, Indonesia Didorong Perkuat Transportasi Berbasis Rel

Jakarta, suarabersama.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Posisi Iran sebagai produsen minyak utama sekaligus pengendali jalur strategis Selat Hormuz membuat konflik berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Bagi Indonesia, kondisi ini bukan sekadar isu global. Kenaikan harga energi dapat menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), memperbesar beban subsidi, hingga memengaruhi nilai tukar rupiah.

Ketergantungan terhadap impor minyak masih menjadi persoalan utama. Nilai impor minyak Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 25 miliar dolar AS per tahun, jauh lebih besar dibanding ekspor minyak yang hanya sekitar 5,5 miliar dolar AS. Sektor transportasi menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar, yakni lebih dari 40 persen total energi nasional.

Di sisi lain, sektor kelistrikan relatif lebih stabil karena didominasi batu bara. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengalihkan ketergantungan energi, khususnya di sektor transportasi, dari bahan bakar minyak ke listrik.

Salah satu strategi yang dinilai potensial adalah memperkuat transportasi berbasis rel. Selain lebih efisien energi, kereta api listrik juga dapat menekan konsumsi BBM secara signifikan.

Namun, pemanfaatan listrik di sektor perkeretaapian masih terbatas. Saat ini, elektrifikasi baru berkembang di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek dan sebagian Jawa Tengah. Sementara itu, sebagian besar jalur di daerah lain masih mengandalkan lokomotif berbahan bakar minyak.

Untuk mengoptimalkan peran kereta api, pemerintah didorong menempuh tiga langkah utama. Pertama, memperluas elektrifikasi jalur kereta, terutama di kawasan dengan mobilitas tinggi. Kedua, mengaktifkan kembali jalur-jalur lama yang sudah tidak beroperasi. Ketiga, membangun jaringan rel baru di berbagai wilayah, termasuk luar Jawa.

Pengembangan jaringan rel juga diyakini mampu menekan biaya logistik nasional yang saat ini masih tinggi, yakni sekitar 23 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ketergantungan pada transportasi jalan raya menjadi salah satu penyebab utama mahalnya distribusi barang.

Meski demikian, pengembangan perkeretaapian masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi pendanaan dan keterlibatan swasta. Berbeda dengan jalan tol, sektor ini dinilai belum cukup menarik bagi investor.

Untuk mengatasinya, pemerintah dapat membuka peluang investasi dengan skema yang lebih fleksibel, termasuk memberi kesempatan bagi investor untuk sekaligus menjadi operator jalur yang dibangun.

Situasi global saat ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi merupakan isu strategis. Penguatan transportasi berbasis rel tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional di tengah gejolak energi dunia. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − eight =