Jakarta, suarabersama.com – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria menilai kritik masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian penting dari mekanisme pengawasan.
Menurutnya, kekhawatiran publik terkait potensi penyimpangan, termasuk isu anggaran dan kualitas menu, merupakan hal yang wajar. Namun, ia menegaskan pengawasan terhadap program ini tergolong ketat dan melibatkan partisipasi langsung masyarakat.
“Program ini memungkinkan publik ikut mengawasi, mulai dari melihat menu hingga menilai kualitasnya,” ujarnya.
Hariqo menjelaskan, orang tua dapat memantau langsung makanan yang disajikan kepada anak, termasuk menghitung kandungan gizi dan membagikannya melalui media sosial sebagai bentuk kontrol publik.
Dari sisi standar, setiap porsi MBG dirancang memenuhi sekitar 30–35 persen kebutuhan kalori harian siswa. Untuk anak usia sekolah dasar, satu porsi makanan diperkirakan mengandung sekitar 583 hingga 685 kalori.
Ia juga menilai anggaran sekitar Rp10 ribu per porsi masih memadai untuk menyediakan bahan berkualitas, karena pengadaan dilakukan dalam skala besar langsung dari petani, peternak, dan pelaku UMKM.
Lebih lanjut, Hariqo menegaskan program MBG justru memperkuat sektor pendidikan. Asupan gizi yang cukup dinilai penting agar siswa lebih fokus belajar dan tidak mengalami kelelahan saat beraktivitas di sekolah.
Sejumlah riset, termasuk kajian bersama Universitas Indonesia, menunjukkan program ini berpotensi menekan angka putus sekolah, meningkatkan konsentrasi belajar, serta memperbaiki kondisi kesehatan siswa.
Selain itu, kebiasaan makan bersama juga dinilai berdampak positif, termasuk mendorong anak mengonsumsi makanan bergizi yang sebelumnya kurang diminati. (kls)



