Suara Bersama

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Rapat DK PBB

Jakarta, Suarabersama.com – Tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian UNIFIL gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan. Indonesia mengecam serangan tersebut dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat.

Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan

Menurut pernyataan UNIFIL, dua penjaga perdamaian Indonesia tewas setelah sebuah ledakan terjadi pada Senin (30/03) di dekat Bani Hayyan. Dua personel lainnya juga mengalami luka-luka.

Insiden ini terjadi sehari setelah serangan lain menghantam posisi pasukan penjaga perdamaian.

“Misi tersebut juga menyatakan bahwa seorang tentara Indonesia lainnya meninggal dalam insiden terpisah setelah sebuah proyektil menghantam area dekat salah satu posisi pasukan di sekitar Adchit al-Qusayr pada Minggu malam. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka kritis,” demikian pernyataan UNIFIL.

Dari pihak TNI, dua prajurit yang gugur dalam insiden ledakan pada Senin adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Sementara dua prajurit yang mengalami luka, yakni Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana dan Prajurit Kepala Deni Rianto.

“TNI kembali menyampaikan rasa berduka mendalam atas gugurnya dua orang prajurit TNI serta dua prajurit lainnya yang mengalami luka dalam insiden di daerah penugasan UNIFIL di Lebanon Selatan,” kata Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah dalam keterangan resmi.

Ia menjelaskan insiden terjadi ketika pasukan Indonesia sedang menjalankan tugas pengawalan konvoi logistik.

“Insiden terjadi saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit,” ujarnya.

Indonesia minta rapat darurat Dewan Keamanan PBB

Pemerintah Indonesia mengecam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tersebut dan menyerukan agar semua pihak yang terlibat dalam konflik menghormati hukum humaniter internasional.

“Keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama. Semua pihak yang terlibat konflik didesak untuk menghormati hukum humaniter internasional dan memastikan keamanan personel penjaga perdamaian,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Indonesia Rico Ricardo Sirait.

Indonesia juga meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk membahas insiden tersebut.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menyebut serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian itu sebagai tindakan yang “keji”. Ia mengatakan telah berbicara dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres serta meminta Dewan Keamanan segera mengadakan pertemuan darurat.

“Keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijaga setiap saat,” tulis Sugiono dalam pernyataannya di platform X.

Kementerian Luar Negeri RI menilai serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat dipandang sebagai insiden terpisah, tetapi mencerminkan memburuknya situasi keamanan di Lebanon selatan.

Indonesia kembali mengecam operasi militer Israel di wilayah tersebut yang dinilai meningkatkan risiko bagi pasukan penjaga perdamaian PBB serta mengganggu pelaksanaan mandat United Nations Security Council Resolution 1701.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + three =