BANJARMASIN, suarabersama.com – Sebanyak 115 orang telah dievakuasi dari KM Virgo Transport 8 yang mengalami insiden di perairan Masalembo, Laut Jawa. Proses pencarian dan penyelamatan terhadap penumpang lainnya masih dilakukan tim SAR gabungan.
Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto mengatakan evakuasi dilakukan setelah kapal roro penumpang tersebut mengalami kondisi miring dan kehilangan kontak dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin.
“Fokus dan prioritas utama kami saat ini adalah keselamatan seluruh pihak yang berada di atas kapal melalui pengerahan operasi penyelamatan yang terkoordinasi,” kata Heri, Minggu.
Untuk menangani kondisi darurat, Kementerian Perhubungan melalui KSOP Kelas I Banjarmasin mendirikan posko di Pelabuhan Trisakti. Posko itu menjadi pusat koordinasi antara KSOP, Basarnas, Pelindo, VTS, kepanduan, agen kapal, dan keluarga penumpang.
Operasi evakuasi juga mendapat bantuan sejumlah kapal di sekitar lokasi, termasuk kapal yang membawa penumpang menuju pelabuhan terdekat maupun Banjarmasin.
KM Virgo Transport 8 diketahui mengalami masalah sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Minggu, setelah berangkat dari Pelabuhan Surabaya pada Sabtu (12/9/2026) pukul 06.52.
Berdasarkan manifes, kapal berbendera Indonesia dengan tonase 8.540 GT tersebut mengangkut 243 orang. Mereka terdiri atas 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, serta 126 sopir dan kernet. Kapal juga membawa 89 kendaraan.
Data sementara Basarnas hingga Minggu pukul 12.00 Wita menyebut 103 orang telah berhasil dievakuasi. Rinciannya, TB Mauhaw IX mengevakuasi 16 orang, termasuk satu orang yang meninggal dunia, sementara TB TCP menyelamatkan 38 orang dan MV Haida membawa 49 orang dalam kondisi selamat.
Dengan perkembangan evakuasi berikutnya, jumlah orang yang telah dievakuasi kemudian mencapai 115 orang.
Sebagian korban yang dievakuasi dibawa menuju Pelabuhan Tuban, sedangkan lainnya diarahkan ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Sementara itu, penyebab insiden masih dalam penyelidikan. Faktor alam, teknis, maupun kesalahan manusia masih menjadi kemungkinan yang ditelusuri, termasuk dampak terhadap muatan dan potensi pencemaran lingkungan.
KSOP Banjarmasin menyatakan pemantauan terhadap operasi pencarian dan penyelamatan akan terus dilakukan. Informasi resmi mengenai perkembangan korban dan hasil penanganan akan disampaikan berdasarkan data terbaru di lapangan. (kls)

