Suara Bersama

UE Usulkan Sanksi Baru, Pelabuhan Indonesia dan Georgia Masuk Radar

Jakarta, suarabersama.com – Blok Uni Eropa mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia dengan memasukkan pelabuhan di Indonesia dan Georgia dalam daftar target pembatasan baru. Langkah ini menjadi bagian dari paket sanksi ke-20 yang disiapkan sebagai respons atas perang Rusia di Ukraina.

Berdasarkan dokumen proposal yang ditelaah Reuters pada awal Februari 2026, pelabuhan Karimun di Indonesia dan Kulevi di Georgia diusulkan untuk dikenai sanksi. Jika disetujui, perusahaan dan individu di negara-negara anggota UE dilarang melakukan transaksi dengan kedua pelabuhan tersebut. Ini menjadi pertama kalinya UE menargetkan fasilitas pelabuhan di negara ketiga yang diduga berkaitan dengan perdagangan minyak Rusia.

Paket sanksi itu disusun bersama oleh badan diplomatik UE (EEAS) dan Komisi Eropa, lalu diajukan kepada seluruh negara anggota. Agar berlaku efektif, usulan tersebut harus memperoleh persetujuan bulat dari seluruh anggota UE.

Bantahan dari Karimun

Menanggapi tudingan tersebut, PT Oil Terminal Karimun sebelumnya membantah keras keterlibatan dalam aktivitas perdagangan minyak Rusia. Dalam pernyataan resminya akhir Januari lalu, perusahaan menegaskan tidak pernah memfasilitasi ekspor maupun distribusi produk energi Rusia. Klarifikasi itu muncul setelah laporan media internasional menyebut adanya pengiriman bahan bakar Rusia melalui fasilitas tersebut pada Desember dan Januari.

Isi Paket Sanksi

Selain menyasar pelabuhan, proposal terbaru juga memuat larangan impor terhadap sejumlah komoditas logam seperti nikel batangan, bijih besi, konsentrat, tembaga mentah dan olahan, serta berbagai jenis scrap metal termasuk aluminium. Produk lain seperti garam, amonia, silikon, batu kerikil, dan kulit bulu turut masuk dalam daftar pembatasan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sebelumnya menyampaikan bahwa paket ini juga mencakup pengetatan pembatasan sektoral dan perubahan pendekatan dari skema batas harga minyak G7 menuju pelarangan penuh layanan maritim bagi minyak mentah Rusia.

Untuk pertama kalinya, UE juga mengaktifkan instrumen anti-penghindaran sanksi terhadap negara ketiga. Dalam proposal tersebut, penjualan mesin pemotong logam dan perangkat komunikasi seperti modem serta router ke Kyrgyzstan akan dibatasi. Dua bank di negara itu—Keremet dan OJSC Capital Bank of Central Asia—diusulkan masuk daftar sanksi karena diduga menyediakan layanan aset kripto bagi Rusia. Sejumlah bank di Laos dan Tajikistan juga disebut dalam usulan.

Di sisi lain, dua lembaga keuangan asal China justru diusulkan untuk dihapus dari daftar pembatasan.

Secara keseluruhan, EEAS mengajukan penambahan 30 individu dan 64 entitas ke dalam daftar pembekuan aset dan larangan perjalanan. Beberapa di antaranya adalah Bashneft—anak usaha Rosneft—serta delapan kilang minyak Rusia, termasuk fasilitas besar di Tuapse dan Syzran. Namun, nama Rosneft dan Lukoil tidak tercantum dalam proposal kali ini.

Hingga kini, paket sanksi tersebut masih dalam tahap pembahasan dan menunggu persetujuan resmi seluruh negara anggota Uni Eropa sebelum dapat diberlakukan. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + six =