Suara Bersama

Tragedi Siswa SD di NTT Soroti Tekanan Ekonomi Keluarga dan Akses Kebutuhan Sekolah

Kupang, suarabersama.com – Peristiwa memilukan terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di area kebun milik keluarganya pada akhir Januari lalu. Aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, membenarkan keberadaan surat tersebut. Tulisan itu menggunakan bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan kekecewaan serta pesan perpisahan kepada ibunya.

Dipicu Kekecewaan Soal Perlengkapan Sekolah

Informasi dari pemerintah desa setempat menyebut, sebelum kejadian korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Permintaan itu belum dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan ibu korban menanggung kebutuhan lima anak seorang diri setelah berpisah dengan suaminya sekitar satu dekade lalu. YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya, sementara orang tuanya berada di desa tetangga. “Menurut pengakuan ibunya, korban sempat meminta uang untuk beli keperluan sekolah,” kata Dion.

Kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit disebut menjadi latar belakang tekanan yang dialami korban, meski aparat masih melakukan pendalaman untuk memastikan rangkaian peristiwa secara menyeluruh.

Pemerintah Pusat Soroti Pendataan Keluarga Rentan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut. Ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pendampingan bagi keluarga rentan secara ekonomi. “Kita harus memperkuat pendampingan dan memastikan data keluarga yang membutuhkan benar-benar akurat agar bisa dijangkau program perlindungan dan pemberdayaan,” ujar Gus Ipul di Jakarta.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar keluarga dalam kondisi sangat sulit tidak terlewat dari bantuan sosial maupun layanan rehabilitasi sosial.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pihaknya akan menelusuri lebih lanjut aspek yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan korban.

Perlu Kepedulian Bersama

Peristiwa ini tidak hanya menjadi urusan keluarga, tetapi juga cermin persoalan sosial yang lebih luas — mulai dari kemiskinan, akses kebutuhan pendidikan dasar, hingga dukungan psikososial bagi anak-anak di wilayah terpencil.

Para pemangku kepentingan di daerah diharapkan dapat memperkuat peran sekolah, perangkat desa, dan layanan sosial untuk lebih peka melihat tanda-tanda anak yang mengalami tekanan emosional maupun kesulitan ekonomi. (kls)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =