Suara Bersama

Taliban vs Pakistan: Deklarasi Perang Picu Ketegangan Asia Selatan

Jakarta, Suarabersama.com – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, pada Jumat (27/2) mendeklarasikan perang terbuka terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan. Pernyataan itu muncul tak lama setelah Pakistan meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, pada Jumat dini hari.

“Kesabaran kami sudah habis. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” kata Asif di media sosial X.

Pihak Taliban melaporkan bahwa jet tempur Pakistan menargetkan Kabul, Paktia, dan Kandahar. Eskalasi ini menandai peningkatan signifikan ketegangan militer antara kedua negara bertetangga tersebut.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa pasukannya “memiliki kemampuan penuh untuk menghancurkan ambisi agresif apa pun.”

Serangan udara Pakistan dilakukan setelah Afghanistan lebih dahulu menggempur sejumlah situs militer Pakistan di sepanjang Garis Durand pada Kamis (26/2) malam. Garis Durand merupakan perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang memisahkan wilayah Afghanistan dan Pakistan dan selama ini kerap menjadi titik panas konflik.

Afghanistan mengklaim serangan tersebut sebagai respons atas bentrokan di perbatasan pada akhir pekan yang menewaskan sedikitnya 18 orang di wilayahnya.

“Sebagai tanggapan atas provokasi dan pelanggaran berulang oleh militer Pakistan, operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand,” kata juru bicara pemerintah Taliban Afghanistan, Zabihullah Mujahid, dalam sebuah unggahan di X.

Pada akhir pekan lalu, Pakistan juga menyerang kamp-kamp milik Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok yang kerap disebut Taliban Pakistan. Islamabad menuduh kelompok tersebut berada di balik sejumlah serangan mematikan di wilayahnya, termasuk insiden di distrik Bajaur yang menewaskan 11 personel keamanan dan dua warga sipil.

Pakistan mengklaim memiliki “bukti meyakinkan” bahwa militan TTP menjalankan aksi atas perintah pimpinan mereka yang berbasis di Afghanistan.

Dalam perkembangan terbaru, Pakistan menyatakan serangan ke Afghanistan pada Jumat menewaskan 133 militan dan melukai lebih dari 200 orang. Sementara itu, Afghanistan mengklaim serangan balasan mereka pada Kamis malam menewaskan 55 tentara Pakistan.

Kedua negara sebenarnya berada dalam kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober lalu. Namun, kesepakatan tersebut dinilai rapuh karena bentrokan kecil terus terjadi di wilayah perbatasan.

Di tengah eskalasi ini, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, telah mendesak kedua pihak untuk “menyelesaikan perbedaan apa pun melalui diplomasi”.

Seruan serupa juga datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, serta Kementerian Luar Negeri Rusia yang meminta Afghanistan dan Pakistan menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan.

Eskalasi ini memicu kekhawatiran luas akan potensi konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan Asia Selatan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 2 =