Jakarta, Suarabersama.com – Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berkembang, sejumlah organisasi politik, serikat buruh, dan organisasi mahasiswa di berbagai daerah kembali menyuarakan komitmen kebangsaan dengan menegaskan bahwa komunisme adalah musuh bangsa Indonesia. Penegasan ini disampaikan dalam rangkaian diskusi publik, deklarasi kebangsaan, serta kampanye literasi sejarah yang digelar serentak sebagai upaya memperkuat ketahanan ideologi nasional.
Kegiatan yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai elemen ini berlangsung dinamis. Para narasumber dari unsur akademisi, tokoh masyarakat, dan aktivis pergerakan menyoroti bahwa ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme secara tegas dilarang di Indonesia melalui TAP MPRS Nomor XXV/1966, karena bertentangan dengan Pancasila dan mengancam keutuhan negara.
Ketua salah satu organisasi politik yang hadir menegaskan bahwa sejarah panjang bangsa Indonesia terhadap upaya pemberontakan komunis—terutama peristiwa G30S/PKI—harus menjadi pengingat kolektif bahwa ideologi yang meniadakan ketuhanan dan mengedepankan konflik kelas itu tidak memiliki tempat di tanah air.
“Kami ingin memastikan generasi muda tidak buta sejarah. Jangan sampai propaganda halus ideologi komunisme kembali menyusup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan serikat buruh menambahkan bahwa gerakan buruh Indonesia sejak lama berpijak pada nilai-nilai Pancasila, solidaritas nasional, serta perjuangan yang konstitusional. Ia menegaskan bahwa serikat buruh Indonesia tidak boleh terjebak pada infiltrasi ideologi terlarang yang kerap memanfaatkan isu ketidakpuasan untuk menyebarkan paham radikal.
“Perjuangan buruh adalah untuk kesejahteraan, bukan untuk mengusung ideologi yang pernah menyebabkan kekacauan di negeri ini,” katanya.
Dari kalangan mahasiswa, sikap serupa juga disampaikan. Para aktivis kampus menilai bahwa tantangan saat ini bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga perang narasi yang berpotensi memutarbalikkan sejarah. Mereka menekankan pentingnya literasi digital dan pemahaman sejarah agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh konten propaganda yang beredar di media sosial.
“Kami, generasi muda, harus menjadi benteng ideologi bangsa. Komunisme jelas bertentangan dengan jati diri Indonesia,” tegas salah satu koordinator organisasi mahasiswa.
Kegiatan tersebut juga menyoroti ancaman penyebaran ideologi komunis di era digital, baik melalui narasi historis yang dimanipulasi maupun propaganda yang dikemas secara modern. Para peserta sepakat bahwa seluruh elemen bangsa harus memperkuat kewaspadaan, memperkuat nilai kebangsaan, serta menjaga persatuan nasional sebagai benteng terakhir dari ancaman ideologi ekstrem.
Dengan sinergi antara organisasi politik, serikat buruh, mahasiswa, dan masyarakat luas, semangat persatuan bangsa kembali ditegaskan: Indonesia tidak akan pernah memberikan ruang bagi bangkitnya komunisme—musuh ideologi, sejarah, dan persatuan bangsa.



