Jakarta, Suarabersama.com – Program Sekolah Rakyat yang digulirkan pemerintah melalui Kementerian Sosial memberi harapan baru bagi banyak anak dari keluarga kurang mampu, salah satunya Khomairoh, siswi asal Kota Malang, Jawa Timur. Putri dari pasangan penyandang disabilitas netra ini bercita-cita menjadi guru, meski sejak kecil hidup dalam keterbatasan.
Khomairoh tumbuh di keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari jasa pijat tradisional. Meski kerap mengalami nyeri tulang sejak kecil, ia tetap bersemangat belajar berkat dukungan kedua orang tuanya. Kini, setelah diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, Khomairoh merasa masa depannya lebih terjamin.
“Saya bercita-cita menjadi guru supaya bisa berbagi ilmu dengan banyak orang. Saya lebih senang dan nyaman di Sekolah Rakyat karena punya banyak teman, guru, dan wali asuh yang perhatian,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).
Bagi ibunya, Sri Minarsih, keberadaan Sekolah Rakyat adalah jawaban doa panjangnya. “Terima kasih kepada Presiden Prabowo atas program Sekolah Rakyat yang membantu kami,” katanya.
Kementerian Sosial menegaskan, Sekolah Rakyat bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga miniatur pengentasan kemiskinan terpadu. Program ini terintegrasi dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), jaminan kesehatan, Koperasi Desa Merah Putih, hingga pembangunan 3 juta rumah.
Hingga kini, sebanyak 100 Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi di berbagai daerah. Pada tahun ajaran 2025/2026, jumlahnya ditargetkan bertambah menjadi 165 sekolah di tingkat SD, SMP, hingga SMA/sederajat, dengan daya tampung 15.895 siswa, 2.407 guru, dan 4.442 tenaga pendidik.
Kisah Khomairoh menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan dukungan Sekolah Rakyat, ia kini menatap masa depan lebih cerah.
(HP)



