Jakarta, Suarabersama.com – Rusia dikabarkan telah mengirimkan peralatan pertahanan udara dan radar canggih ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Israel. Pengiriman ini dilaporkan telah dimulai setelah Teheran secara resmi meminta bantuan dari Moskow. Berita ini diungkapkan oleh The New York Times, sementara media pemerintah Iran melaporkan adanya pertemuan antara Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, yang berlangsung di Teheran pada hari Senin, 5 Agustus 2024.
Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian menyampaikan kepada Shoigu bahwa Teheran sangat bertekad untuk memperluas hubungan dengan “mitra strategisnya, Rusia.” Pezeshkian juga menegaskan, “Rusia adalah salah satu negara yang telah mendukung bangsa Iran selama masa-masa sulit,” sebagaimana dikutip oleh The Times of Israel.
Pezeshkian juga mengungkapkan kepada Shoigu bahwa agresi Israel di Gaza dan pembunuhan terhadap pemimpin biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran minggu lalu merupakan “contoh nyata pelanggaran terhadap semua hukum dan peraturan internasional.” Meski Iran tidak ingin terjadi eskalasi konflik, Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terkait pembunuhan Haniyeh. “Iran sama sekali tidak bermaksud memperluas krisis di kawasan, tetapi rezim ini pasti akan menerima balasan atas kejahatan dan kesombongannya,” tegas Pezeshkian, seperti dikutip oleh Iran International.
Pertemuan antara Pezeshkian dan Shoigu terjadi pada saat hubungan antara Iran dan Israel berada dalam kondisi yang sangat menegangkan. Setelah pembunuhan Haniyeh di Teheran, otoritas Iran bersumpah untuk memberikan hukuman yang “keras” terhadap Israel, yang dituding sebagai pelaku di balik insiden tersebut. Sejumlah pihak memperingatkan kemungkinan terjadinya perang antara Iran dan Israel, dengan para pengamat menduga bahwa konflik ini mungkin akan terbatas pada perang proksi yang melibatkan kekuatan-kekuatan di Timur Tengah.
Ketegangan ini juga menarik perhatian Amerika Serikat, yang berusaha untuk membujuk Iran dan negara-negara lain agar menahan diri dari balas dendam terhadap Israel. AS meminta agar ketegangan di Timur Tengah mereda untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, sejak agresi Israel terhadap Gaza dimulai pada Oktober tahun lalu, Rusia telah menunjukkan dukungan terhadap kelompok milisi Hamas. Kremlin juga mengecam serangan yang menyebabkan kematian Haniyeh di kediamannya di Teheran pada 31 Juli 2024.
(XLY)



